Kegagalan

“Remember that sometimes not getting what you want is a wonderful stroke of luck” Dalai Lama

Seperti halnya kata-kata bijak lainnya, kita akan sulit memahami maknanya sebelum benar-benar menemuinya dalam perjalanan hidup kita sendiri.

Apabila tidak memahami dengan baik, tanggapanku melalui kata mutiara di atas mungkin seperti ini:

“What the hell.. not getting what i want is exactly a failure”

“What the hell.. luck apaan? Apes kok disebut keberuntungan”

“What the hell.. ini orang hidupnya enak terus sih, makanya bisa seenaknya ngomong gitu”

“What the hell.. ”

“…..”

“What the hell..”

(Aku nggak bisa mikir lagi mesti menanggapi apa, soalnya sudah sedih)

Melihat ke belakang, hidupku dipenuhi banyak sekali kegagalan, mari kita list beberapa yang mencolok:

  1. Gagal masuk IPA
  2. Gagal masuk HI
  3. Gagal masuk STAN
  4. Gagal Internship di Tokyo dan Osaka

Tapi,

Setelah aku pikirkan, aku malah bersyukur, karena apabila salah satu di antara kegagalan tersebut ada yang berhasil, ceritaku akan sangat berbeda, karakterku juga akan berbeda, bahkan kita tidak saling kenal.

Misalnya aku masuk IPA.. aku mungkin stress, karena memang Sains bukan untukku. I’m terrible with number Udah jelas, kayaknya nggak perlu penjelasan lebih lanjut.

Misalnya aku masuk HI, aku mungkin lebih international oriented, tapi aku jadi anak FISIP, bukan FIA, sehingga aku nggak masuk Administratio Choir, kalau nggak masuk Administratio Choir mungkin juga sampai sekarang aku belum pernah ke Semarang, Bandung, sampai Macau dan Hong Kong. Juga nggak bisa ketemu membernya, sehingga mungkin nggak kenal kamu, dan kamu.

Misalnya aku masuk STAN, aku mungkin sudah ditempatkan di Sumbawa, Pasuruan, Bali atau lebih jauh lagi seperti Wamena. Mungkin sekarang aku kerja jadi customs dengan rambut rapi. Temanku akan banyak yang laki-laki, dan mungkin sampai sekarang aku belum punya pasangan. Aku punya teman yang begitu.

Misalnya aku diterima Intern di Tokyo, masa internya cuma 2 bulan, jauh lebih pendek ketimbang di Nagoya. Apabila di Osaka, lokasinya bukan di kota, tapi agak jauh dari kota, durasinya 2-3 bulan, perusahaannya sangat nggak sesuai dengan passionku. Bandingkan dengan aku yang tinggal di tengah kota Nagoya, durasinya juga panjang, sehingga aku cukup membuat pondasi untuk membentuk lingkaran sosial, skill, dan bahasa. Dan memang Nagoya itu sempurna untukku. (Iya, aku udah ngomong berkali kali) soalnya Tokyo dan Osaka terlalu besar dan berisik.

Banyaknya kegagalan bukan berarti aku merasa sebagai produk gagal, iya aku pernah merasa sedih, iya aku pernah down, itu normal. Tapi makin kesini aku makin bersyukur pernah gagal, karena apabila salah satu saja dari kegagalan tersebut ada yang berhasil, ceritaku sampai hari ini akan beda sepenuhnya, layaknya Butterfly Effect dalam Theory Chaos.

Adalah hal yang penting untuk memiliki mimpi atau tujuan, tanpa hal tersebut, bukan berarti hidup kita sia-sia juga, hanya kita mungkin akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk

wandering around realizing what we’re meant to be.

Jadi, milikilah mimpi.
Atau yang lebih sederhana lagi: paling nggak kamu tahu apa yang kamu mau.

dan perjuangkan.

Tapi sadari, dalam perjuangan tersebut kita akan menemui banyak kegagalan. Mungkin karena 2 hal:

  1. Semesta tahu jalan lebih mudah untuk memanifestasikan mimpimu.
  2. Itu bukan jalanmu.

admit it, we can’t get everything.

dan suatu hari kamu akan melihat ke belakang, mengingat kutipan Dalai Lama di atas sambil tersenyum..

“syukurlah..”

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s