Gravitasi Rumah

Ada hal yang aku khawatirkan ketika pulang ke rumah:
rasa nyaman. 

image

pewe

Mari kita akui, kita semua dipengaruhi lingkungan.
Dan setiap lingkungan mempunya ritme, vibrasi, frekuensi atau energi masing masing.

ketika di Paris misalnya: kota yang terlihat picturesque dan branding Paris yang romantis. Belum lagi bahasa yang terdengar sangat (sangat) cantik, kita semua akan terbawa suasana. Kita menjadi pecinta. Kita jadi romantis

ketika di Milan, yang mana menjadi pusat mode dunia, kita akan merasa seperti a scarecrow. Kita akan nyanyi RadioheadCreep di sepanjang jalan, “but i’m a creep, i’m a weirdo..” sehingga kita akan mulai memperhatikan penampilan

begitupun di Mecca, atau Jerusalem, atau Vatican, kita akan merasa relijius,
sampai seterusnya. 

Semua tempat mempunyai ritme / energi yang membuat kita sedikit banyak akan terbawa,
karena secara alami kita akan beradaptasi.
Masyarakat Kepanjen, selayaknya kota yang bukan kota. (apa sih)
tempo masyarakat berjalan lambat, bahkan waktu pun terasa sangat panjang.
Aku juga jadi bangun lebih pagi, dan tidur lebih awal. Karena masyarakat Indonesia pada umumnya memulai kegiatan dari pagi, bahkan sekolah pun jam 6.30.

sesuatu yang susah terjadi di Nagoya, yang pada umumnya segala kegitan termasuk sekolah, kantor dan toko-toko dimulai dari jam 9. Jepang bukan negara pagi. Mereka negara larut. Bahkan aku di Jepang baru tidur sekitaran jam 1 malam. Dan waktu berjalan dengan sangat cepat. 

I swear, kayaknya aku keluar jalan kaki untuk makan siang, tau tau balik ke apartment udah sore. Selain itu mungkin karena segala pergerakan masyarakatnya terbiasa cepat, mobilitasnya tinggi, semuanya berjalan dengan efektif dan efisien. 

sama sama menikmati waktu senggang (nggak kemana mana dan bertahan di dalam rumah) di Nagoya dan di Kepanjen akan terasa berbeda, karena memang kedua tempat memiliki “tekanan tak terlihat”  yang berbeda. Itulah kenapa untuk dapat merasakan “liburan” sebaiknya memang pergi ke tempat liburan. Sehingga kita akan merasakan / menerima energi tempat liburan tersebut: jadi lebih happy atau santai. Untuk bisa relaks, jauh lebih mudah untuk pergi ke lingkungan yang tenang ketimbang mengkondisikan rumah kita (misalnya di tengah kota) untuk menciptakan lingkungan yang tenang. Jadi ingat, dalam memilih tempat liburan: energi apa yang kamu mau? baru cari tempat yang menawarkan energi tersebut. 

Adalah sebuah kesalahan untuk mencari ketenangan dengan berlibur di Los Angeles atau New York. 

….

Di Kepanjen semuanya berjalan santai, nyaman, relaks, tenang.
Sebenarnya aku takut ini akan mempengaruhi produktifitas dan ambisiku.
Inilah kenapa, menurutku tinggal di Malang/ Kepanjen wouldn’t make me do my best in everything, karena energi “zona nyaman” terus menarikku untuk bertahan. Bawaannya jadi santai. Sehingga aku merasa nggak harus pergi jauh dan nggak perlu bermimpi lebih tinggi. 

“Tinggal saja di sini, sudah cukup untukmu.” Kepanjen berucap melalui ciutan burung sepanjang hari dan dedaunan yang tertiup angin, juga orang-orang yang dengan santainya ngobrol di warung kopi pinggir jalan. Tertawa. Menaikkan satu kaki ke kursi.

santai.

Sehingga aku mulai berpikir: benar juga, aku nggak sebegitu butuhnya kerja jauh, sok sok an International oriented. Toh aku juga punya ini ini dan itu. (hal hal pengganti hal tersebut)

Tapi 

“tidak!”

image

nope

zona nyamanku, kamu tidak boleh menghambat perkembanganku. Kamu selamanya adalah rumahku, tapi aku harus pergi dari sini. 

Untuk mimpiku.
Untuk menemukan bagian terbaik dari diriku.
Di luar sana.

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s