Never Ending

Selayaknya adaptasi, awal awal kembali ke rumah terasa sangat berat. Beberapa hari aku merasa seperti “putus”. Seperti ada yang hilang. Aku putus dengan Nagoya, kota yang masih aku cintai. Selayaknya orang yang patah hati, aku diliputi perasaan

“denial" seperti: "dia masih milikku, aku masih disana, aku masih belum selesai, aku bisa lebih baik lagi, let me be there again, we could have been something, you are the best.”

Badanku memang di Indonesia, duduk manis di ruang tv. Tapi jiwaku masih di sana, tertinggal. Dia masih jalan jalan di Sakae. Tempat paling “pop” di Nagoya. Menikmati kombinasi jalanan yang bersih, orang orang yang menarik dan bahasa yang cantik dengan Caramel Macchiato di tangan kanan. Sesekali masuk ke toko toko yang lucu untuk sekedar window shopping dan berhenti di depan Parco untuk nonton mini concert sambil menghabiskan sore. 

Aku bahkan bisa merasakan itu dengan jelas. Fix, jiwaku masih di sana.

heck, bahkan aku sekarang pun masih konsisten mendengarkan lagu-lagunya “Ikimonogakari” salah satu band Jepang yang aku sukai.

Fix

Aku pun masih berharap teman-temanku yang di Jepang menghubungi ku seperti biasanya. Ayo dong “ganggu aku” lagi. Ganggu kecintaanku akan kesendirian lagi. Ajak aku kemana lagi.

Tapi untuk apa? untuk apa mereka menghubungiku? nggak ada keperluan yang tersisa. Mereka juga sudah mulai masuk kuliah dan aktif part time job

Mereka sibuk. Aku harus mengerti. 

….

setelah aku selesai nulis ini, aku menumbuhkan rasa ikhlas, i let them go, and guess what? besoknya at least 5 orang dari mereka menghubungiku, dan mayoritas di antaranya nggak biasanya menghubungiku. Yang mana ini sangat menarik, seperti Law of Attraction, pikiran kita dapat menarik apapun di dunia ini, tapi kunci untuk dapat menarik hal hal tersebut adalah: tau apa yang kita mau, kemudian berhenti terobsesi dengan hal tersebut. Dengan berhenti terobsesi, kita membiarkan semesta bekerja untuk kita. Saat kita terus terobsesi dan kepikiran dengan hal tersebut, kita malah menunda semesta untuk memanifestasikan “doa” kita. Sayangnya melepaskan obsesi kita terhadap sesuatu yang memang kita inginkan adalah hal yang sulit. Pembahasan Law of Attraction akan dilanjutkan di post yang akan datang, karena aku memang niat mempelajari hal ini, i have a huge interest in this subject dan ini memang terjadi denganku berulang kali.

….

Berhari-hari aku masih merasa sebagai “warga Nagoya” bukan “warga Kepanjen” dan mengeluh (dalam hati)

“God… it’s such a downgrade”, semua yang aku lihat di Malang terasa kelabu. Diperlengkap dengan mayoritas lingkaran sosialku sudah nggak disini.

The glitter is gone.

I feel like i don’t belong to this city anymore.

Dalam dudukku, malam itu omku datang, kita berdialog seperti biasa, aku juga curhat tentang apa yang aku rasakan.
kemudian omku bilang:

“kasarannya, Indonesia itu apa sih? Indonesia itu payah, nggak ada apa-apanya dibanding negara lain. Habis hidup enak di Jepang yang teratur, terus hidup disini.

Alahhh.

Tapi, kamu nggak boleh mengeluh dan meratapi. Justru karena kamu punya pengalaman hidup di Jepang, kamu harus bawa apa yang baik dari sana untuk diterapkan disini, paling nggak di lingkungan kecilmu.

Kamu harus ikhlas dan membuka hatimu. Cari pengalaman sebanyak banyaknya, tinggal dimanapun nggak papa. Itu demi memperkaya batinmu. Terus belajar hal hal untuk memperkaya jiwamu.

Ketika kamu sudah bisa hidup dimanapun dan menerapkan apa yang kamu peroleh selama ini dengan baik. Saat itulah kamu bisa dikatakan berhasil”

Aku mengangguk, aku setuju. Sebagai seorang ahli agama yang punya murid dari berbagai kalangan, omku sama sekali nggak membahas tentang keagamaan ke aku.

“bahwasanya dikatakan dalam surat xx”. Nggak, nasehat seperti itu bukan tipikal nasehat yang langsung mengena di dadaku. Dan nasehat

“jangan mengeluh, Indonesia juga nggak kalah Indah”

bisa dipastikan akan langsung lewat di telingaku, tanpa perlu aku cerna. Tapi nasehat di atas, selayaknya nasehat yang baik, mengandung dua unsur penting (ini menurutku):

  1. Empati
  2. Motivasi

Harus ada empati, agar si penerima nasehat merasa dimengerti selanjutnya barulah penyampaian motivasi. Tanpa empati, motivasi hanya lewat.

Karena pada dasarnya, orang hanya mau mendengarkan jawaban yang dia pengen dengar dari orang lain.

Omku sendiri pernah mengatakan bahwa

kunci hidup ini sebenarnya adalah “filsafat”. Yang nggak berubah adalah rukun islam/iman. Di luar itu, hubungan antara manusia dan manusia selamanya fleksibel. Karena kehidupan dan peradaban akan selalu berkembang.
Kunci nya tetap di “filsafat” dan aku adalah penggemar filsafat.

…..

Bicara filsafat,
Aku tiba tiba ingin bahas ini.
Hidup adalah perjalanan, dalam perjalanan akan selalu terdapat dinamika, baik buruk, apapun itu. Hidup akan selalu memiliki “polarity”, hitam putih, baik buruk, kanan kiri, ying yang. Kita sebagai manusia ditakdirkan terikat dalam polaritas itu. Tak terpisahkan bagai dua sisi mata uang. Ingat, Tuhan menciptakan malaikat yang taat dan selalu “putih” namun tidak menganggapnya sebagai makhluk paling sempurna, justru manusia yang “hitam putih” yang dianggap sempurna. Tuhan bisa saja menciptakan dunia yang damai dengan makhluk makhluk putih saja. Bisa. Gampang. Tapi Tuhan menciptakan kita, manusia, yang jelas jelas hampir mustahil untuk putih sepenuhnya.

Sebenarnya apa yang menjadi tujuan Nya?
Menilai usaha kita menuju ke"putih"an? Apa jangan jangan hanya untuk “ada”?

Just being?

entah, tapi ada kutipan ini:

“There is nothing either good or bad, but thinking makes it so” – William Shakespear

“Life isn’t good or bad; it just is.”

sebenarnya tidak ada hal baik atau buruk, yang ada hanyalah persepsi kita terhadap hal itu.

Di Atas Sana, sudah tidak ada baik dan buruk lagi, yang ada hanyalah ada.

Mungkin?
Entah,
Tapi Tuhan dan Misteri Nya luar biasa!

…..

Tapi tetap,

(Okey, kembali ke topik)

peradaban masa ini terikat polaritas nilai.
Maka itu diperlukan adaptasi agar bisa memberikan “respon” dengan baik.

Remember this:

kita nggak bisa merubah suatu kejadian, tapi kita bisa merubah respon kita terhadap kejadian itu.

Perlu jam terbang dan pengalaman agar dapat memberikan respon yang tepat. Itu harga yang harus di tempuh dalam menuju “kedewasaan” atau “kematangan”.

misalnya, kita nggak bisa merubah si A yang omongannya kasar tiap hari. Tapi kita bisa merubah respon kita terhadap si A,

either

ikutan ngomong kasar, marah ke dia, atau jangan dimasukkan hati, berarti emang sifat dia kayak begitu.

begitupun dengan lingkungan baru, merubah Kepanjen/Malang/Indonesia agar bisa sebaik Jepang tentu susah. Tapi aku bisa merespon dengan

either

mengeluh meratapi nasib, apply kerja di luar negeri lagi, atau adaptasi dan tetap mempertahankan attitude

yang aku dapat dari Jepang untuk diterapkan disini.

pilihan responsnya cukup banyak. Yang jelas,

life requires never ending adaptation. It’s our response that matters.

Dan mulai sekarang aku akan mulai menarik pelan-pelan jiwaku yang masih di Nagoya, ikhlas, mengembalikannya utuh bersama badanku yang ada di Malang.
Agar kita bisa bekerja sama dan mempersiapkan petualangan selanjutnya. Membuka “ruang” dan membiarkan semesta bekerja untukku. Sehingga aku akan punya cerita baru untuk ditulis.

Dimanapun itu.

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s