Going Back To Indonesia, How does It Feels?

Setelah tinggal 6 bulan di Nagoya, aku akhirnya harus kembali ke Indonesia,
tanah air yang tidakku lupakan, kan terkenang selama hidupku.
Biarpun saya pergi jauh,
tidak kan hilang dari kalbu. 

6 bulan secara psikologis adalah waktu yang cukup untuk “me-reset” suatu hubungan, jadi setelah tidak bertemu selama 6 bulan, kita punya kesempatan untuk membangun “kesan pertama” lagi.   

Aku pikir aku nggak akan merasakan perubahan yang signifikan, atau bahkan mungkin nggak merasakan perbedaan sama sekali, toh aku seumur hidup tinggal di Malang and i felt fine and i thought i would always be. 

Sehingga aku nggak akan kena shock culture dan sok sok an kena shock culture.

But does it feels different? it does. It DOES feel different.

Perubahan sudah terasa lebih awal dari yang aku perkirakan karena perubahan itu sudah terasa sejak dari bandara. 

Terlalu awal?

Perubahan dari Kansai Airport ke Kuala Lumpur International Airport ke Juanda International Airport terasa dari pelayanannya dan terus menunjukkan tren negative (dalam indikator ku, but who cares about my personal indicator? if majority says “fine” then it’s fine. My pardon

Petugas Customs pun makin lama makin nggak ada senyum.

Ini selalu jadi hal yang menurutku patut direnungkan; 

Tegas bukan berarti nggak ada senyum, senyum bukan berarti nggak punya wibawa.

Ini kalau aku boleh berpendapat sih, tapi mungkin memang karena SOP nya begitu. 

Di Jepang itu tegas dan ketat kok, tapi masih ada senyum dan ada kesan ramah, i swear aku sampai harus x ray tas 3 kali di Kansai karena aku bawa laptop, tablet dan gunting yang masing masing setelah dikeluarkan satu persatu di scan lagi satu persatu dan petugasnya tetap senyum dan ramah meskipun antriannya padat banget. 

Indonesia? Cool bro.. cool.. 

Terima kasih sudah mengingatkan bahwa aku kembali ke negara yang “ketat” lagi. 

Kemudian keluar bandara, sudah banyak agen taxi atau travel yang menyerbu, aku pura-pura jadi bule, entah dianggap bule Malaysia, Thailand, Myanmar, Vietnam atau Singapore terserah, (meskipun aku berharap dikira bule Jepang) tapi agar mereka stop menawarkan diri, aku jawab pakai bahasa Inggris and it was work! 

“Mas mas taxi mas”

“Mas mas travel mas”

“Mas mas mau kemana mas?" tanya beberapa orang bertubi tubi sambil mengikuti. Bahkan aku belum keluar ruangan. 

"No, i’m waiting for someone” Jawabku singkat dan langsung merubah keadaan. 

Oh,
Pada masa masa awal ini aku perlu menyesuaikan diri dengan bahasa, ketika di Malaysia aku masih beberapa kali reflek jawab pakai bahasa Jepang seperti:

Hai” untuk bilang “iya” , 

“Summimasen” untuk bilang “permisi”,

arigatou gozaimasu” untuk bilang “dasar sial!”. 

I have no problem with Bahasa Indonesia (and javanese of course) since it’s my first language, but not with English. Both English and Japanese seems like want to take each other’s position as my second language. I want to talk in English but my Japanese keeps coming out. 

Selain bahasa, seperti biasa di Surabaya udara terasa panas, karena di Jepang sekarang sedang musim hujan dan mau masuk musim gugur, perbedaan suhu jadi lumayan terasa. Sejujurnya Jepang juga pernah panas kayak begini kok. Cuma timing aku pulang aja yang membuat  perbedaan suhu terasa agak kejam. 

Okey, mari kita list apa yang sejauh ini terasa berbeda (terlepas dari hal-hal yang sudah obviously different seperti kebersihan dan teknologi ya, karena kalau ditulis semuanya akan makin panjang dan aku akan makin sedih karena sudah pulang) 

Ini dia: 

Rumah

Rumahku terlihat begitu berkilau, karena bangunan di Indonesia kebanyakan lantainya menggunakan ubin. Sedangkan mayoritas di Jepang menggunakan material seperti kayu, meskipun kadang kadang bukan kayu beneran. Tapi lebih “less glossy” ketimbang ubin. Efek yang sama juga terasa ketika aku pulang dari Macau, rumahku terlihat lebih “bersih”, karena di Macau aku dihujani tampilan yang khas chinatown. Yang ruko ruko begitu.   

Kusam
Berbeda dengan efek yang dapatkan dari rumah (terutama interior) eksterior bangunan Indonesia terlihat lebih pudar dan berdebu. Entah bagaimana ya menjelaskannya. Efek yang kurang lebih sama akan kalian dapatkan ketika habis mengunjungi kota lalu ke desa, ya terasa seperti itu bedanya, habis hidup di tengah kota Nagoya terus kembali ke Kepanjen tentu terasa sangat drastis. LIKE, REALLY DIFFERENT. 

Uang

Uang kita bisa jelek begitu ya? Cuci tanganlah kalau habis megang uang. Aku lumayan shock ketika habis menukarkan Yen untuk jadi Rupiah. Yen memang jauh lebih rapi secara tampilan dan kebersihan yang membuat Rupiah terlihat 3 tingkat lebih tidak menarik. (baca: jorok) 

Air Keran yang masih belum bisa diminum

Aku kadang reflek minum air keran kalau habis sikat gigi, sekarang nggak bisa lagi. Welcome back, dispenser, my old friend. 

Internet Speed is so Sloooowwww

Mungkin memang IndiHome di rumah nggak menggunakan paket yang kencang, tapi dulu aku baik-baik saja dengan koneksi yang segitu, tapi 6 bulan di Jepang, aku sudah lupa apa itu buffering bahkan untuk streaming di 4K. Sedangkan di rumah, 720p udah kejar kejaran. Sekarang malah mentok di 480p. Apa memang IndiHome yang sedang payah? Yang jelas aku nggak nyangka kalau perbedaan kecepatan internet ini terasa sangat signifikan. Setelah aku cek secara angka memang di Jepang rata-rata kecepatan Internet adalah 17,11mbps dan aku pakai paket Indihome yang 1,2mbps.

Pantes,

Sebagai generasi internet, meskipun terhitung sebagai “kebutuhan tersier” bagi banyak orang, penurunan kecepatan internet ini terasa paling menyebalkan karena selama ini aku sudah pindah sepenuhnya pada layanan streaming, aku nggak nonton tv lagi dalam beberapa bulan ini, bahkan di Jepang aku cuma nonton 1 drama aja di tv yang tayang seminggu sekali. 

Aku juga pengguna Apple Music dan Spotify, i stream my music, meskipun aku masih punya file offline nya di device. Selain streaming service, aku juga pengguna cloud service; Google Drive dan iCloud. I store my file on the cloud. That’s why i need’s reliable internet connection.


Not to mention “Internet Positif” tho’.. bukan berarti aku suka main “internet negatif”, aku cuma nggak suka dibatasi dan ini semakin mempertegas image Indonesia yang “North Korea/ China Wanna be" 

Service

Poin ini adalah yang mempunyai pembahasan paling panjang, bersiaplah. 

Service dalam bentuk apapun, di Jepang pegawainya memberikan service dengan sangat baik, disiplin, sangat ramah dan murah senyum. Jam berapapun dan seramai apapun. Aku sendiri selalu mikir kalau kerja di Jepang jadi pelayan atau apapun yang berhubungan langsung dengan customer itu berat. Pasti capek. 

Masuk toko disambut: ”irasshaimase!“ (Selamat datang)
lewat di depan toko juga kadang disambut, ”irasshaimase“ 

mau pulang juga disambut: ”okyakusama okaeri desu!“ (Pengunjung pulang) ”Arigatou gozaimasu!“ (Terima kasih) "Mata ashita” (sampai jumpa besok) 

Iya, tiga tiganya diucapkan, dan part “arigatou gozaimasu” sama “mata ashita” itu diucapkan seluruh pegawainya, yang rata-rata part timer jadi masih muda. 

Kemudian dikasih minum gratis, yang kalau sudah tinggal sedikit bisa nambah lagi (kadang dituangin lagi sama pramusajinya). Jam berapapun, meskipun jam mau selesai kerja/mau tutup. Akan tetap memberikan senyum seperti baru buka, bukannya ogah ogahan karena udah capek.

Capek lah pokoknya. Tapi terasa sangat menghormati pelanggan. 

Dan cara mereka menghitung uang kembalian itu khas banget, kayak pegawai bank ketika menghitung uang, tapi uangnya sambil ditunjukkan ke kita sambil ngomong jumlahnya. Kemudian kalau ada koinnya, ya kembaliannya sampai detil meskipun 341 Yen, Ya bener bener sampai 341 Yen, bukan 340 Yen+ Permen, apalagi dibulatkan jadi 300 Yen seperti di pom bensin. 

Mau bayar pakai uang sebesar apapun akan tetap ada kembalian. Nggak bakal nanya “ada uang kecil aja?” 

Indonesia? aku fotokopi, cetak foto untuk keperluan pendaftaran wisuda, nggak mendapatkan senyum sama sekali. Mungkin nggak semua kayak begini ya, Indomaret dan Alfamart masih punya attitude yang bagus. 

Tapi overall, attitude nya lumayan beda. Dan itu kabar buruk untuk negara yang terkenal “ramah”. 

Tapi yang paling Indonesia adalah “jam sholat”

Tunggu, 

sebelum kalian datang ke rumahku untuk “menghalalkan” darahku, biarkan aku lanjutkan dulu. 

Mendirikan sholat itu bagus, tapi kalau sampai membuat orang lain terganggu dan meninggalkan kewajiban yang lain, apa bagus?

aku nggak tau ya jam istirahat di Indonesia, tapi di Jepang adalah jam 12-13, dan semua pasti kembali tepat waktu. Aku pun. Aku juga udah dalam kondisi sudah makan siang dan sholat jam segitu. 

Tapi kemarin aku di bank Mandiri Syariah Kepanjen, pegawainya baru kembali di jam 14.10 dan satpamnya bilang “sedang sholat pak” ketika ada customer yang nanya.

“nggak papa pak, bagus itu” kata customer itu, dan dia nunggu udah 30 menit lebih.

“kepalamu” batinku, yang memang sedang buru-buru. 

Aku buru-buru ingin mengembalikan uang yang dipinjamkan Mayuko untuk beli bagasiku yang overload melalui Western Union, aku ngejar perbedaan waktu Indonesia – Jepang yang selisih 2 jam biar Mayuko bisa ambil hari itu juga sebelum kantor Western Union Jepang tutup. 

Selain itu, aku juga nggak enak aja “ngutang” lama lama. 

Aku sendiri baru dapat pelayanan jam 14.30 such a long time, right? dan ternyata belum bisa dilakukan dan aku harus kembali besok paginya. Karena jam 3 udah tutup. 

Thank you.

Aku sudah menunggu dengan sia-sia. Besok paginya aku kembali jam 8.30 dan guess what? pegawainya yang di counter belum ada. “masih fotokopi mas” jawab pak satpam. Aku menunggu sampai jam 9.07. Fotokopi banyak banget kayaknya. 

Kenapa nggak alasan “lagi sholat dhuha” yah.. pasti aku akan jawab,
“subhanallah, nggak papa pak, bagus itu, dilanjut aja sampai dhuhur, sekalian, hehe.” 

Sayang sekali aku hari itu juga buru-buru, aku harus ke kampus untuk urus wisuda, dan lagi lagi, lepas dhuhur, akan susah mencari orang-orang yang dicari. 

Aku nggak sekali ini jadi korban “indisipliner berkedok kerelijiusan pegawai”.

Karena 2 tahun lalu, 

(Mari dengarkan curhatku sebentar) 

aku masih ingat dengan sangat jelas, di Bakesbangpol Kota Malang, aku mau urus studi banding untuk prodiku. Aku datang jam 14.00 karena sebelumnya aku ada urusan dan aku kesulitan nyari tempatnya, well, mungkin memang sudah “sore”, ketika aku datang dan tanya, ibunya jawab dengan judes

“duhhh saya belum sholat mas”
“duhhh bu, maaf udah ganggu waktu sholat ibu” (jawabku dalam hati)

“sudah, mas besok pagi aja”
“baik bu”
Mungkin ibunya capek..

dan aku sakit hati banget waktu itu.
Hingga aku melakukan sumpah serapah. (di Path) 

Sekali lagi, Mengurus sesuatu di Indonesia itu idealnya sebelum dhuhur, ingat itu teman-teman. 

Aku sudah peringatkan loh ya. 

Di Jepang, memang nggak ada sholat, tapi ini bukan tentang sholat, ini tentang kualitas service dan kedisplinan. Yang sayang sekali jauh terasa berbeda. Mengurus sesuatu di Jepang, dalam sehari bisa menyelesaikan banyak hal, aku pernah berurusan dengan pemerintah Jepang dan prosesnya sangat simple. Langsung selesai di tempat dan menunggu nggak sampai 10 menit.

Ngurus KTP misalnya, nggak perlu bawa dokumen aneh aneh, cukup bawa passpor dan isi formulir, diserahkan begitu aja, nanti KTPnya dikirim pakai pos. And it’s Free. 

Perilaku Pengendara

Aku pikir tulisan ini berakhir pada poin “service”

Tapi ternyata ada kejadian yang membuatku harus nulis poin ini: 

Perilaku pengendara. 

Ini mungkin sepenuhnya salahku yang lupa kalau di Indonesia, pengendara adalah pengguna jalan nomor 1 dan ini adalah hal yang sebaliknya di Jepang.
Aku sebagai pejalan kaki diperlakukan sebagai pengguna jalan nomor 1 selama 6 bulan ini dan sepertinya aku “merasa tinggi” sehingga nggak bersyukur. 

Beberapa waktu yang lalu aku pernah cerita di Instagram kalau aku pernah ambil foto cafe di seberang jalan dan mobil yang mau lewat berhenti. Menungguku selesai mengambil foto. Ini contoh “ekstrim” yang nggak bisa dibayangkan terjadi di Indonesia. 

Tapi contoh “normal"nya adalah kapanpun ketika menyebrang jalan, mobil atau motor akan selalu berhenti dan mengalah meskipun secara posisi mereka lebih "menang”. Mereka selalu mendahulukan pejalan kaki. 

Tapi kemarin, 

holy guacamolly,

Aku hampir ketabrak motor, motornya hijabers (lagi lagi aku bermasalah dengan pengendara hijabers, dari rasio 10/10 hal hal “mengerikan” yang aku alami di jalan selalu melibatkan hijabers) ketika jalan kaki ke masjid mau jumatan. Aku nyebrang di jalan yang nggak jalan raya sebenernya, mata kita berdua sudah bertemu (dia boncengan, dan aku nggak sempet lihat mata yang dibonceng) 

dan sumpah aku udah senyum dan ngasih “kode” kalau mau nyebrang. Karena dengan “formula” yang sama, di Jepang, pengendara akan berhenti dan membiarkan ku lewat, tapi tadi enggak,
Dia maju gitu aja, aku sampai lari buat menghindar.

Dalam hati aku menyalahkan diri sendiri, kebiasaan di Jepang nggak seharusnya aku bawa di sini, untung tadi cuma motor. 

…… 

Baiklah, itu dulu, aku nggak menuntut hal hal yang aku tulis di atas untuk berubah kok.
Karena yang harusnya berubah adalah aku. Aku harus beradaptasi dengan kondisi ini.
Dan lebih mudah mengubah diri sendiri ketimbang merubah banyak elemen masyarakat di atas, kan? 

Doakan agar aku beradaptasi dengan baik. 

Selamat datang kembali di Negara yang tak terprediksi. 

ただいま!(Tadaima! )

今からよろしくお願いします! (Ima kara Yoroshiku onegaishimasu!)

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s