Sampai Jumpa Lagi

Hari-hari terakhir di Nagoya membuatku jadi orang yang lebih menghargai pertemuan, Setiap kali aku bertemu dengan temanku, aku selalu pamit pada mereka, selalu memandang mereka dengan penuh perasaan, menikmati dengan betul setiap moment karena mungkin hari itu adalah pertemuan terakhir kita. Who knows?

Hari ketika aku secara resmi pamit untuk pulang adalah hari penuh air mata sekaligus hari penuh pelukan. Let me tell you, di Jepang tidak biasa dengan skinship. Jangankan pelukan, salaman pun adalah hal yang sangat sangat jarang dilakukan. Jadi pelukan yang aku dapat terasa istimewa, karena aku juga nggak expect untuk mendapatkan hal itu.

Secara umum, aku harus pamitan dengan 3 kelompok ini: dari kubu apartment, dari kubu kantor dan dari kubu Nanzan University.

Dari kubu apartment, malam itu ada farewell party, untukku dan Hwaryoung, kita seumuran dan sama sama jadi intern. Kita dikasih ini:

image

Lihat senyumnya, manis ya.

image

Ohh Good old day.

image

Pasta Party.

Aku sempet bener-bener menitikkan air mata ketika melihat foto-foto itu.

Selanjutnya yang lebih penuh air mata adalah farewell di kantor yang literally semua nangis, Entah apa yang udah aku lakukan sehingga mereka begitu sedih aku tinggal.. entah.. Tapi di kantor ini, semua udah memperlakukan aku seperti anak, karena umurku yang paling muda dari yang lain.

image

Bersama Kato san (kiri) dan Miyuki san (kanan). Kato san single by the way. Mubazier banget.

Yang paling mengharu biru adalah perpisahan dengan kubu Nanzan University, Aku punya banyak teman di sini, sebelum aku pulang, aku “hang out” berdua dengan beberapa dari mereka yang aku anggap dekat.

image

Ketika Farewell Meeting, Maeda san juga dateng.

image

Ketika makan setelah meeting. Mizuki manis banget.

Dan aku akan fokuskan “pembicaraan” ini ke Mayuko. 
Gadis ini, Yang masih 19 tahun ini.

Sebelum aku pulang, aku diundang untuk makan bersama keluarganya lagi, kali ini aku datang dengan bahasa Jepang yang sudah naik kelas, aku sudah nggak “translate”, aku bisa melakukan percakapan tanpa kesulitan. Dan selayaknya “menantu idaman” (meskipun aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa) aku dapat meng-handle situasi itu dengan baik dan sangat tenang. Ini fotonya:

image

Makan bareng keluarga Kawaura.

Pagi itu Mayuko dan Chise mengantarku ke Kansai Airport, Osaka, naik Shinkansen.

Ohh aku ke Nagoya Station diantarkan bossku

image

ini bukan akting.

Kita nggak pilih Centrair Airport yang masih satu prefektur dengan Nagoya (Aichi Prefekture) karena harga tiket pesawat yang 2x lipat.
Dan diiringi hujan, kereta kita melaju kencang, tanpa terusik. 

Kebalikan dengan hatiku yang berantakan.

Aku sedang menghadapi kenyataan bahwa aku akan pulang, yang ada di pikiranku adalah: apakah aku bisa kembali kesini, ataukah Jepang menendangku begitu saja setelah membuatku jatuh cinta?

Perjalanan yang lumayan panjang bikin Chise dan Mayuko tertidur, tapi nggak denganku, selain karena aku “morning person” pikiranku memang sedang galau. Gimana aku bisa tidur? Apakah aku mau melewatkan saat terakhir di negeri yang cantik dan malah fokus ke dimensi mimpi? What a waste.

Aku melihat mereka berdua tertidur sambil sesekali kepalanya terjatuh, lucu juga, aku sebagai pecinta gadis Jepang sedang menikmati saat saat terakhir melihat langsung “spesies manis” itu dengan khusyuk. Khusyuk karena aku juga berdoa supaya bisa melihat mereka lagi. Suatu hari.

Tidak, tidak suatu hari, aku ingin melihat mereka lagi secepatnya.

Sesekali ketika kepalanya mau jatuh, aku tahan pakai tanganku, aku bener-bener menahan posisi itu sampai beberapa lama. Aku nggak ambil selfie untuk lucu lucuan karena aku takut bunyi kamera akan membangunkan mereka, aku cuma pengen mereka tidur dengan baik. Karena setelah ini, akan menjadi saat yang cukup berat bagi mereka, dijamin akan banyak air mata.

Tibalah kita di bandara, tibalah saat untuk berpisah. Sambil mengantarkanku ke batas akhir, Mayuko sudah menangis terisak. Aku juga menangis. Kemudian entah siapa yang memulai, aku dan dia sudah berpelukan.

Kita berdua butuh ini, semesta tahu itu, maka semesta menggerakkan lengan kami, untuk meyakinkan bahwa apa yang sudah terjadi satu tahun ini bukanlah mimpi, begitu pula yang akan kami hadapi setelah ini. Ini adalah nyata, dan pelukan mem-validasi hal itu. Kamu bisa aku sentuh. Kamu nyata.

Mereka menunggu sampai pesawatku lepas landas, dalam hujan, sayangnya aku nggak sadar bahwa mereka menunggu di luar, karena hp sudah dimatikan. Aku dikirimi foto ini

image

Dasar bodoh, kenapa hujan hujanan hanya untukku?

Jujur aku puas dengan ucapan terakhirku ke dia, aku mengucapkannya dengan “layak” yang intinya aku bahagia bertemu dengan dia.
Dalam perjalanan yang memakan waktu seharian, dia masih menanyakan kabarku, udah sampai mana, yang baru aku balas setelah di surabaya. Aku mengirimkan voice note dengan suara bergetar, damn it. 

image

itu fotonya, dan itu bukti voice note ku, panjang juga ya.

image

artiin sendiri.

What a dramatic separation for a professional relation.
….
Mayuko, hmm, Sampai sekarang aku tidak (atau belum?) melihat dia “romantically”, begitupun mungkin sebaliknya, aku juga nggak menganggap dia sebagai adik, apalagi kakak. Kita berteman, tapi aku juga nggak bisa memposisikan dia sebagai teman biasa. Mungkin yang paling mendekati adalah; dia udah kayak saudara. Aku sering nyubit pipinya gemes dan dia sering elus rambutku. Dua hal yang teman biasa tidak akan lakukan (apalagi di Jepang, belakangan dia curhat soal temannya yang suka pegang pegang dan dia nggak nyaman) tapi aku juga nggak bisa bayangkan buat cium dia di bibir. Yang secara alami menjadi pertanda bahwa aku tidak mempunyai ketertarikan seksual dengan dia. Entah.

Pasti ada alasan kenapa aku dan dia ketemu, dia butuh “kode” yang aku bawa dan aku butuh “kode” yang dia bawa untuk melengkapi dan menemukan perjalan hidup masing-masing.

Dan ya, aku bisa melihat Mayuko berkembang dengan baik, dari gadis pendiam yang tak kelihatan, kini jadi jajaran atas di AIESEC.

Yang bisa bicara di hadapan publik dengan baik,

Yang jelas dia sudah membantuku mewujudkan salah satu mimpiku.

Terima kasih Mayuko, Terima kasih atas senyum dan tangismu untukku, Sampai jumpa lagi.

image

Hutang rasa.

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s