Bahasan Berat

Semua ini berawal dari pertanyaan ini:

Tujuan kamu hidup untuk apa?”
Pertanyaan dari boss untukku setelah kita membahas tentang Psikologi.

Oh, I love psychology, kalau aku harus kuliah lagi di luar negeri, aku akan ambil either psychology atau art, just to fill my mind (and make friends). No necessary for career purpose at the first place.

Dan nggak peduli apa kata tetangga yang mungkin akan berpikir:

Duh mbak.. itu Vian, anaknya xxx kuliah jauh jauh di luar negeri, ambil psikologi/seni, ujung ujungnya jadi xxx (yang bener bener beda dari background)”
“Lha iya toh mbak, kok nggak kasihan orang tuanya, makanya, kuliah nggak kuliah sama aja mbak sekarang itu, sama sama susah cari kerja”

Zzzz

Kasihan orang tua apa sih..

Memang iya sama sama susah cari kerja, tapi beda karakter berpikirnya.
Tujuan kuliah itu untuk apa? Pembentukan karakter berpikir, everybody.
That’s the point.

….

Okey lanjut,

Karena aku sudah pernah memikirkan ini, dan aku menjawab “kebahagiaan”

Oo.. definisi kebahagiaannya? Kebahagiaan itu menurut Vian seperti apa?

Yang langsung terlintas di pikiranku ada dua: Power dan Kebebasan.

Yang pertama kali terlintas di pikiran kita tentang suatu hal adalah jawaban yang paling jujur, sebelum “logika” mengedit beberapa ataupun semuanya. 

Aku menjawab “Kebebasan”

Karena untuk mendapatkan Kebebasan, aku juga harus memiliki power, power untuk bisa hidup bebas, power untuk berani melakukan sesuatu. Intinya “bebas”

Saya sendiri nggak papa meskipun nggak begitu punya banyak uang, karena punya uang tapi nggak punya waktu itu nggak berarti. Saya dan keluarga akan kesepian, karena saya sendiri besar dari keluarga yang gila kerja, harus diakui, saya kesepian”

“Tapi kalau nggak punya banyak uang, istri dan anak mu nanti kasihan”

“Itu juga saya pikirkan, saya ingin punya banyak uang, tapi akan menggunakan itu sebagai alat untuk memperoleh ‘kebebasan’, bebas beli ini itu misalnya. Tapi saya juga sadar bahwa kebahagiaan tiap orang akan berbeda-beda, bagi saya "kebahagiaan” adalah “kebebasan”, tapi istri saya (di masa depan) mungkin akan “materi” dan anak saya mungkin adalah “waktu”. Beda lagi dengan orang tua saya. Saya harus memikirkan kebahagiaan mereka.“

Memikirkan dan membantu, karena kebahagiaan pribadi adalah tanggung jawab individu.

Sulit ya.. kamu pengen bawa orang tuamu kesini?“
"Mungkin enggak, karena belum tentu mereka suka disini, mungkin mereka akan kesepian karena nggak kenal siapa-siapa, dunianya beda”

Salah satu definisi cinta adalah melepaskan. Merelakan orang yang kita cintai hidup di dunia yang dicintai, di dunia yang mereka pikir tepat dan tidak memaksakan untuk masuk ke dunia kita.

Sulit ya”

“Iya sulit.. tentu sulit.. makanya selama saya masih sendirian, nggak ada salahnya saya memperjuangkan kebahagiaan versi saya”

“Sini”

Aku diajak ke depan kalender yang gede, sampai tahun 2100.

Lihat ini, angka hitam di kalender ini akan kamu habiskan untuk bekerja, kamu cuma akan ketemu keluarga sebelum tidur dan setiap akhir pekan. Kamu suka kebebasan, tapi sebagian besar waktu akan terlewat untuk ini”

“Ini jumlah yang mayoritas..”

Iya, makanya, banyak orang yang melewatkan waktu mereka dengan bekerja di tempat yang mereka tidak sukai. Mereka terjebak dalam ‘kerja karena terpaksa’. Kerja karena butuh uang.”

“Saya takut menjadi seperti mereka”

“Kebahagiaan itu, menemukan hidup yang seimbang antara kerja dan keluarga. Kita harus bahagia dalam bekerja karena akan menghabiskan waktu mayoritas kita. Seperti disini, kita sangat memperhatikan kebahagiaan karyawan, karena apa? Karena kita sendiri adalah "present company” bagaimana kita bisa membuat customer bahagia kalau si penjualnya tidak bahagia"

Aku mengamini, menemukan keseimbangan inilah yang sulit.

Boss suka kerja, (di Jepang jarang ada "aku” “kamu” karena terasa kurang lembut, maka mereka selalu pakai nama untuk subjek/objek, sebagian percakapan di atas aku edit jadi “aku” “kamu” atau “saya” karena geli kalau ditulis dengan bahasa Indonesia. That’s it)

Boss menemukan kebahagiaan disini, karena apa yang kita lakukan adalah hal yang membuat orang lain senang, jadi boss nggak merasa sedang bekerja dengan terpaksa"

Good point.

“Itu dia, ini antara bekerja dari hal yang disukai atau kerja dulu dan kemudian menyukai pekerjaannya, saya belum menemukan itu”

“Wajar, kamu baru memulai”

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s