Perpisahan

Kemarin, 7 September adalah hari yang mungkin akan aku kenang dalam waktu lama.
aku dijadwalkan untuk presentasi yang terakhir kali di Nanzan University jam 3 sore. Aku berusaha mempersiapkan presentasiku dengan baik dalam beberapa hari untuk memberikan kesan terakhir yang baik.

Karena kesan terakhir itu sama krusialnya dengan kesan pertama.
Aku juga mempersiapkan mental untuk melakukan perpisahan dengan teman-temanku di sini. 

memang aku masih akan di sini sampai beberapa waktu kedepan dan aku masih akan bertemu dengan beberapa di antara mereka, tapi mungkin ini terakhir kali aku bertemu dengan sebagian besar dari mereka soalnya agenda ku dalam AIESEC sudah selesai. 

Siang itu semua seperti akan berjalan sesuai rencana: 

 "aku ke Nanzan University – Presentasi – Makan Bareng – farewell"

sampai pada saat aku buka hpku di subway, tepat sebelum aku pergi ke Nanzan University, di grup angkatan lagi ngomongin Riefky yang lagi koma.

deg

Aku shock. Aku bahkan nggak tahu kalau Riefky sedang sakit.

Mereka nangis, sedih dan rencana mau jenguk. 

Pikiranku mulai terpecah, karena mungkin, mungkin aku harus bersiap untuk perpisahan yang lain.

aku berusaha tetap tenang, profesional, berusaha agar menutupi perasaan yang campur aduk. Aku harus selesaikan dulu tugas ini. 

Fokus. Fokus. Fokus. 

hpku aku masukkan tas dan nggak aku buka lagi. 

…. 

Sampailah aku di Nanzan dan memulai presentasi. Presentasiku sendiri berjalan dengan lancar. Kemudian giliran Mayuko san (manajerku) yang bicara. 

Dia berbicara sambil menangis. Sesuatu yang mengejutkan.

Sial. Aku juga jadi nangis. Tapi tangis campuran antara terharu, sedih dan cemas. Atas 2 hal yang berbeda. Campuran antara hal ini dengan hal yang lain.
Begini kata-kata dari Mayuko san kalau ditranslate ke bahasa Indonesia: 

aku sama Vian sudah berhubungan selama satu tahun ini, tepatnya semenjak September tahun lalu. Menyadari dia akan pulang sebentar lagi, aku merasa sepi.
Waktu itu Vian lah yang pertama menghubungiku di grup internship, aku kaget soalnya aku sendiri nggak promosi di grup, aku masih belum percaya diri, aku masih pemalu, aku masih ragu apakah aku bisa jadi TN Manager, tapi Vian datang bilang ‘konnichiwa’.

Aku terharu..

Waktu itu Vian juga masih ragu apakah ambil internship atau wisuda, soalnya dia udah gagal beberapa kali, dia kehilangan rasa percaya dirinya. Aku yakinkan dia untuk mencoba lagi dan meskipun harus menunggu agak lama, karena menurutku menunggu 6 bulan tidak akan sia sia, (internship mulai maret, tapi aku udah deal sejak september) karena manfaatnya akan dirasakan seumur hidup. Nggak ada salahnya melewatkan 6 bulan.

Waktu itu kita masih komunikasi pakai bahasa inggris. 

Akhirnya Vian mau ambil internship ini,
kita skype terus setiap minggu, untuk melatih bahasa Jepangnya Vian sampai bisa lancar kayak sekarang, dia juga mengajariku bahasa Indonesia karena kebetulan jurusanku adalah bahasa Indonesia, dan ngobrolin banyak hal. Akhirnya kita semakin dekat dan semakin aku kenal Vian, semakin aku tahu bahwa dia ini hebat..
sifatnya, karekternya.. cara berpikirnya..

bla bla bla

(dan ini adalah kata kata yang paling menyentuh)

Aku sangat berterima kasih karena Vian mau percaya kata-kataku, Terima kasih sudah memberiku kesempatan ini, Aku sangat bersyukur bertemu Vian

Damn it, siapa yang nggak nangis?

Selesai Speech, kita nganterin Maeda san (yang juga ngasih speech) sampai ke luar, kita berdua tetap berdiri di tengah lapangan, menatap gerbang, berdampingan. 

Dalam waktu lama.

Tanpa suara.

Tanpa menatap satu sama lain. 

Sampai aku noleh dan bilang “terima kasih”

Saat itu baru mata kita bertemu, mata dia yang menangis, mataku yang juga menangis. 

Di lapangan itu (atau ruang terbuka itu lah pokoknya) kita masih berdiri dengan posisi yang berdampingan dan ngobrol untuk beberapa menit, sampai beberapa orang pamit dan menyapa kita. 

…. 

“Kamu tahu Mayuko? aku juga bersyukur bertemu kamu.." 

….

Aku masih tetap berada di Nanzan University sampai jam 6 sore, menunggu Mayuko cs selesai meeting, jalan jalan di lingkungan kampus dan ngobrol banyak hal dengan Kapo, intern dari Hong Kong, (Ini adalah Farewell meeting ku sekaligus Kick Off Meeting buat Kapo) kita cuma ngobrol sebentar tapi kita cepat akrab, well, kemiripan akan menarik kemiripan. Kita satu frekuensi. 

Jam 6 kita pergi makan malam ramai ramai di masakan Italy dekat kampus, 

sampai jam 9 malam. God, aku bersyukur ikut internship, karena dengan mudahnya aku bisa punya teman. Meskipun 85% dari mereka adalah perempuan. Di dunia kerja, lingkaran sosial kita terbatas, tapi dengan internship, aku masuk ke lingkaran mahasiswa.  

Aku mengucapkan sampai jumpa pada sebagian dari mereka, aku nggak akan pernah mengucapkan selamat tinggal. 

Aku benci perpisahan.

Malam itu aku berjalan dari stasiun yang mulai sepi ke apartment dengan perasaan mellow

….

Dan mimpi lebih buruk datang ketika hpku mulai terkoneksi dengan wifi lagi;

Riefky meninggal. 

Aku langsung pusing, i mean it, kepalaku beneran pusing. 

aku belum siap dengan perpisahan sementara, kenapa langsung Kau hadirkan perpisahan selamanya pada hari yang sama.. 

aku nggak bisa tidur sampai sangat larut, 02.30 an. Atau lebih.
aku bahkan nggak bisa menanggapi apa apa di grup,
ternyata, kalau kita beneran sedih kita nggak bisa berkata-kata.

apalagi update status.

aku cuma diam, dalam kegelapan, ditemani lagu mellow.

berjam-jam.

sambil berdoa untuk Riefky.

See you when i see you again.
Nanzan, Riefky,

aku hutang rasa 

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s