How I Love This City Too!

Ada Berbagai macam manifestasi kebahagian di Nagoya. Nagoya terletak di Aichi Prefektur, bagian tengah Jepang, kota terbesar nomor 3 setelah Tokyo dan Osaka. Karena letaknya yang di tengah inilah lokasi Nagoya terbilang strategis. Mau ke Osaka tinggal ke barat, mau ke Kyoto juga dekat banget, mau ke Tokyo? Ke timur. 

Kalau kalian bertanya harus ke kota mana apabila berkunjung ke Jepang, aku mungkin nggak menyarankan Nagoya sebagai tujuan wisata. Aku akan menyarankan untuk ke Tokyo, Kyoto, Osaka, Fukuoka dan Hokkaido. Pilihlah minimal 2 kota dan salah satunya harus Kyoto. Kenapa harus 2? Karena secara alami kalian akan turun di Osaka atau Tokyo karena tiketnya lebih murah. Kelilingilah Osaka dan Tokyo dulu. Kemudian harus ke Kyoto. Kenapa? Karena Kyoto adalah kota yang bisa mewakili Jepang dengan sempurna.

Kotanya Indah, hijau, terawat, bersih. Pokoknya sempurna. Perempuan Kyoto juga, untuk seleraku, bisa bikin aku produktif menulis puisi. They are hurtfully, heavenly, devilishly, ridiculously beautiful. Kalau aku bisa memilih, aku akan tinggal di Kyoto. Selamanya. Dan aku akan bahagia. 

Oke, Kembali lagi ke Nagoya

Di Nagoya lebih banyak orang-orang kerja, kota ini sebenarnya nggak begitu ramai, bagi pecinta ketenangan, tinggal di Nagoya adalah hal yang tepat. Di Nagoya ada semuanya. Aku bahkan nggak ingin berkunjung ke Tokyo atau Osaka. Karena ya itu tadi, aku merasa apa yang ditawarkan Nagoya sudah lebih dari cukup.

Karena Nagoya lah, aku jadi tahu hal apa yang aku suka. Salah satunya ketika kalian bertanya; “suka pantai atau gunung?” Aku suka semuanya. Meskipun nggak “sangat suka”.
Aku pernah ke banyak pantai dan bahkan mendaki gunung. (Bromo nggak dihitung “mendaki”). 

Aku lebih suka ke jalan. Karena aku suka lihat 3 hal: Manusia, bunga dan bangunan (yang cantik atau unik). Aku suka hal-hal yang cantik. I’m a huge fans of beauty. Many kinds of beauty that world can offer, i will love it.

Nagoya pun menyajikan semuanya dengan takaran yang tepat. Agak sedikit kurang manis untukku, tapi dengan menambah takaran manisnya, will get me overwhelming, i will hard to move on to another city. My future city, wherever it be. 

Aku jalan kaki ke arah mata angin manapun, akan selalu menemukan bangunan yang “picturesque” di berbagai sudut, saking banyaknya, aku jadi bingung mau upload yang mana. Aku bisa aja upload setiap hari, tapi aku menahan diri. Aku sering jalan kaki tanpa arah dan tetap selalu menemukan sesuatu yang menarik. 

Bangunan modern? Got it. Taman? Got it. Rumah rumah unik? Got it. Bangunan tradisional? Got it. Bahkan Kastil. (Literally 1,5 km from my appartment) Semuanya terawat dengan baik. Semuanya pun bisa aku tempuh hanya dengan jalan kaki. Atau setidaknya punya akses yang mudah. Thanks to subway. 

Juga yang membuatku suka adalah karakter masyarakatnya. I feel like i belong to this city afterall. Masyarakatnya di semua kalangan akan punya vibes “childish” atau “otaku”. Gesture dan nada bicaranya anime banget. Lucu. Vibes childish tidak berakhir disitu, karena pekerja kantoran masih main game (termasuk belakangan main Pokemon GO, masih pakai setelan resmi, bahkan suami istri, gandengan tangan, tapi tangan satunya nyari pokemon. Yang lebih sulit dipercaya adalah aku pernah lihat Polisi yang naik sepeda sambil nyari Pokemon), masih nonton Idol (bahkan bossku fans sejati AKB48 kan) dan hobi-hobi yang menurut orang Indonesia akan dianggap “meh, bocah banget”. 

Hobi itu penting, teman-teman. Untuk menghilangkan stress. You should have one, whatever it is. Just to fuck the world. 

Orang-orangnya suka jalan sendirian, nongkrong sendirian di coffee shop untuk baca buku, mereka hobi banget baca buku, belajar, tidur atau menyelesaikan pekerjaannya dan tidak terlihat pathetic meskipun sendirian. 

This is so me. Aku jadi tidak terlihat out of place. 

This is not your fault Indonesia, this is on me

Kalau budayanya beda ya gimana lagi. 

Hampir setiap weekend aku akan pergi ke Sakae, i think i know Sakae more than some of native Nagoyan (?) people. Jalan kaki di Sakae itu enak aja, vibes nya asik, orang orangnya terlihat keren dan santai, jadi ikut terbawa suasana. Di depan Parco, ada mini concert rutin tiap weekend sore. FREE. Aku beberapa kali sengaja datang hanya untuk nonton mini concert itu. Penontonnya bisa duduk gitu aja di semacam lantai yang bertingkat. It feels so good, senja, outdoor, live music, Ice Americano, what can i ask for more? Kebanyakan aku nggak tau musisinya siapa, but i give them a chance anyway, dan ada beberapa band yang langsung bikin aku suka, salah satunya adalah Anderlust, ternyata ada MV nya di YouTube

I love Music.

Ini nggak hanya untuk Nagoya, tapi Jepang secara umum bisa memuaskan hasrat pecinta musik dengan sangat baik. Selain punya toko CD yang keren-keren, seringkali bisa ditemui tanda tangan atau merchandise resmi para artis disitu, Acara musiknya juga acara musik yang “authentic”, karena bener-bener musik. Banyak artis luar negeri yang main di “Dahsyat” nya TV Jepang. Namanya “Music Station”. Terakhir aku lihat ada MUSE dan Ariana Grande. Oh, Big Bang juga pernah. 

Kemudian aku sering ke toko buku, coba buka buku-buku yang berbahasa Jepang (aku berharap orang mengira aku native Japanese) Meskipun aku selalu berakhir di rak majalah dan buku bahasa Inggris. 

Perempuan Nagoya? Secara mengejutkan adalah nomor 3 dari bawah untuk urusan kecantikan. Sulit dipercaya, padahal aku setiap hari selalu melihat paling tidak 5 orang yang cantiknya di atas rata-rata. Aku bahkan sempet beberapa kali mau tepuk tangan saking cantiknya. 

Magnifico. 

Membuatku nggak begitu berhasrat nonton Idol Group karena masyarakat biasa juga sama cantiknya (kecuali mereka tidak menyanyi dan menari). 

Nagoya itu sempurna

Nggak hanya aku yang jatuh cinta dengan Nagoya, karena aku sempet ngobrol sama orang USA yang menyatakan “I love Nagoya, actually i had been in Japan 20 years ago, then i come back here finally, with a job. I really love this city. This is my dream comes true” aku memberinya selamat. Karena mimpinya tercapai. 20 tahun itu waktu yang gila. Apalagi bagi orang yang “buru buru”.

Orang Korea juga ngomong hal yang senada, “aku udah setahun tinggal di Tokyo, tapi aku nggak gitu suka, terlalu crowded. Aku selalu pengen balik ke Nagoya. Tapi nggak banyak kerjaan untuk foreigner disini. It’s always either Osaka or Kyoto” Aku mengamini. 

Memang iya, susah nyari kerja untuk foreign people di Nagoya.

But gosh, Nagoya, i love you. And many people do.


vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s