Teguran

Beberapa hari yang lalu,

(Damn it, I need to learn how to open the story, karena selalu di awali dengan “beberapa hari yang lalu”. Bear with me a little bit.)

Sebenernya aku nulis tepat setelah kejadian berakhir.
Biar nggak lupa dan biar emosinya masih terasa sehingga aku bisa menyampaikan emosiku dengan baik.
Biar apa? Biar tulisannya hidup dong. 

Waktu itu aku lagi ke mau ke toilet, sekalian balikin gelas ke dapur. Di ruang tengah ada beberapa orang di share house, bagi yang belum tau, aku tinggal di share house yang berisi 8 orang; 3 orang laki-laki termasuk aku dan 5 orang perempuan. 2 laki laki yang lain usianya 30an, sedangkan perempuannya masih 20an. Entah karena track record ku sejak kuliah yang lebih gampang berteman dengan perempuan, atau karena usia 2 orang laki-laki yang terlalu jauh untukku sehingga aku susah ngeblend dan cenderung “takut” sama mereka. Padahal mereka baik.
Tapi syukurlah keduanya jarang di apartment (ya, biar bagaimanapun, bentuk bangunan ini tetaplah apartment, meskipun lantai paling atas -lantai 14, lantaiku- adalah share house) yang satu kerja jadi semacam pelatih untuk anak sekolah, berangkat pagi banget dan pulang malam banget. Yang satunya kerja di waktu malam, dan tidur di waktu pagi-siang. 

Lega. 

Nah, malam itu satunya ada, si pelatih. Yang aku paling takut. Dia ini orang Korea Selatan. Pas aku lewat dengan damai, dia nyapa: 

(percakapan terjadi dalam bahasa Jepang, kecuali yang bahasa Inggris)

“Vian, sini”

“Iya?”

“Duduk sini" 

Dalam hati, mampus.. Berulah apa lagi aku..
Iya aku emang udah 2 kali diprotes sama dia karena lupa ngelap seat toilet pas habis dipake, bukan karena aku pipis kemana-mana, tapi emang kadang flush nya terlalu kenceng sehingga sedikit nyiprat ke dudukan toilet (yang bagian dalam) pokoknya itu lah, aku nggak tau namanya dan nggak mau riset tentang bagian bagian toilet. But you know, toilet di sini standar rumah sakit banget. Mesti kering. 

"Kenapa?”

“Ini siapa?” Sambil nunjukin foto di hp, profil picture Facebook ku yang sama Mayuko. 

“Ohh ini temen”

“Kamu suka sama dia?”

“Hmm biasa aja…..”

“Terus kenapa kamu pasang ini jadi profil picture?”

“Hmm.. Ya….. nggak ada alasannya”

Dalam hati aku langsung mengkorelasikan bahwa in mungkin tabu untuk masyarakat Jepang, iya di Jepang ini kita nggak bisa foto-foto sembarangan, ada beberapa tempat yang nggak boleh difoto, juga ada etika untuk tidak memfoto orang lain ketika di cafe misalnya, aku pernah ditegur disini, juga ketika konser, makanya disini akan jarang ada orang nonton konser sambil ngerekam, karena selain menggagunggu orang lain yang lihat, ini juga tentang privasi (dan atas nama eksklusifitas). Makanya sebelum aku upload foto, aku akan ijin dulu ke orang yang ada di foto, atau nggak usah diliatin wajahnya.

Privasi

Tapi kalau teman sih loss aja. 

Jadi hati-hati kalo foto-foto di Jepang, tapi tenang aja, tempat kayak gitu sedikit banget kok, dan pasti ada sign nya, dan cara ngingetinnya akan tetep sopan, halus banget. Kalau yang ditegur “bocah Indonesia yang badung” udah pasti akan membangkang sih dengan teguran sehalus itu. 

Tapi kalian kemungkinan besar akan tetep nggak bisa foto pas nonton konser. 

“Jadi dia ini siapa?” Melanjutkan 

Dia ini manajer ku, manajer dari AIESEC gitu, aku datang kesini karena dia yang mempertemukan aku sama perusahaan”

“Hmm gitu, mahasiswi? Usianya berapa?”

Iya.. 19 tahun, dia udah punya pacar kok”

“Dia udah punya pacar? Kenapa kamu pasang foto ini?”

Sial.. Aku salah jawab.. Pertanyaan “kenapa” itu adalah pertanyaan yang paling susah dijawab, dengan bahasa apapun, terlebih dengan skill bahasa Jepang yang nggak bagus-bagus banget.

“Yaa karena….. Kita temenan..”

“Tapi Vian, this would not make her boyfriend happy”
Aku merinding..

“Iya kah.. Tapi aku kenal pacarnya dan dia juga anak AIESEC, jadi aku pikir nggak papa”

“Kamu kenal pacarnya?”

“Iya kenal.. (meskipun dia tinggal di Tokyo)”

Dia tau kamu pasang foto ini?”

Iya…. Tau kok.. (Kayaknya)” 

“Nggak papa?”

“Sejauh ini nggak papa.. (Kayaknya)”

“Hmmm gitu, yaudah.. Kita semua penasaran aja soalnya hahahah kita ngomongin kamu kemaren, kita pikir kamu dapat pacar anak sini”

Kampret.. 

Aku udah mau lari buat ambil hp di kamar dan ganti profil picture padahal. 

Percakapannya nggak sekaku yang kalian bayangkan kok, tapi ada satu kalimat yang ngena banget di dadaku “this would not make her boyfriend happy” 

Dan aku merasa bersalah.
Entah kenapa,
Aku tahu kalau kita memang ditakdirkan untuk tidak bisa membuat semua orang senang,
Sebisa mungkin aku berusaha menjaga perasaan orang lain, namun aku nggak sadar bahwa perbuatan yang menurutku nggak akan ada masalah masih berpotensi untuk bikin orang lain sedih. (atau sesedih itu)

Aku merasa kecolongan. 

Tapi nggak papa, kedepannya aku akan berhati-hati. 

Yaudah, aku ganti profil picture dulu. 

Vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s