Kita adalah manusia yang terobsesi dengan waktu. Sejujurnya aku pun begitu.
Sayangnya, obsesi kita akan waktu akan membuat kita tidak menikmati proses.

Kita menjadi tidak sabaran,
selalu merasa tertinggal,
tertekan,
dan tidak menikmati hidup. 

“aku belum menikah”

“aku belum punya pekerjaan yang tetap”

“aku belum punya rumah”

“aku belum mapan”

“aku belum punya mobil”

“bisnisku nggak jalan-jalan”

aku juga merasakan hal yang sama, trust me i’m ambitious person. Aku punya hasrat yang besar untuk tetap menjadi yang terdepan dan terbaik, atau sejelek jeleknya tidak tertinggal terlalu jauh dengan yang lain. 

Aku khawatir. 

Keadaan akan makin buruk apabila kita sambil membandingkan hidup kita dengan orang lain.
Jadi lombanya ada dua: dengan waktu dan dengan orang lain. 

Sucks, right?
Maka itu aku hidup dengan alis yang menegang setiap hari.
Alis alis kayak orang yang lagi ujian itu loh

(Oke aku bohong) 

Kalau kita melihat pola yang ada selama ini, (Dunia akan selalu memiliki pola)
akan selalu ada keinginan yang lebih:

yang sekolah ingin cepat cepat kuliah, yang kuliah ingin cepat cepat kerja, yang kerja ingin cepat cepat nikah. dan akan begitu seterusnya. 

cepat, cepat, cepat,

waktu, waktu, waktu.


“memangnya kalau nggak cepat kenapa?”

“aku menyia-nyiakan waktu”

“berapa banyak waktu yang kamu punya?”

“entah..”

Atau

“Kamu nabung sampai nggak mau memakai uangmu untuk berlibur sama sekali itu untuk apa?”

“Untuk masa depan”

“Kapan?”

“Ya nanti pas tua”

Sayangnya orang yang begini ini akan terus memiliki alasan, tidak terikat usia. Nanti pas tua dia akan memiliki anak, nggak bisa kita berlibur, si anak pertama mau masuk kuliah, butuh biaya.

Ketika si anak udah mapan, dia terlalu tua pula untuk bisa menikmati dunia, tenaga udah lemah, nggak bisa backpacker an ke Italy. 

Dunia ini mubazir untuk tidak dinikmati. Tuhan sudah menciptakannya dengan indah. 

Saat itu, trust me, kita semua cuma bisa bilang 

“Seandainya..”


Tidak hanya masa tua nanti, sekarang pun kalau kita pikirkan, pasti ada saat dimana kita menyesal karena tidak menikmati atau melakukan sesuatu dengan baik di masa lalu. 

“seandainya aku dulu di SMA ikutan ekskul ini”

“seandainya aku dulu di kuliah aku ambil jurusan ini”

“seandainya aku di sekolah bolos sesekali, dan nggak serius-serius amat jadi anak. Meh. i’m 15 years old back then. What can i expect. As wise as Plato?”

dan seterusnya.


i’m sick of it.

Jadi aku akan mulai melepaskan obsesiku akan waktu dan balapan.
Untuk mulai menikmati “saat ini”.
ini bukan tentang usia, karena banyak orang di usia 10an, 20an, 30an, 40an, 50an merasa sedang menyianyiakan waktu. 

Kasihan.

ini adalah masalah universal.

aku nggak menyarankan untuk nggak bekerja keras, tapi menyarankan untuk “slow down and be patient” jangan ragu pula untuk mundur beberapa langkah yang nantinya akan worth to bounce back

Jangan sampai kita nggak mau mundur bahkan untuk satu langkah karena ego.

Atau merasa tertinggal dari yang lain.
Berbesar hatilah untuk mundur dua tiga, langkah. 

Karena segala sesuatu memang tidak bisa dipaksakan.

And life is a dance, my friend, you take one step forward, then 2-3 step backward, period.

Kamu akan sulit untuk ambil langkah ke belakang kalau merasa sedang berlomba.
Padahal lombanya tidak ada sama sekali. 

Hidup nggak akan sia sia, bahkan melakukan apapun yang menurut orang lain sia sia bukan berarti hal itu sia-sia untukmu. Karena segala kejadian yang kamu lalui akan membentuk kamu hari ini. Bahkan kegagalan pun akan memberikan pelajaran untukmu. Apakah itu sia-sia? 

Terlalu khawatir akan masa depan membuatmu tidak sepenuhnya “being in the moment”, kamu tidak sepenuhnya hadir pada masa ini, karena apa? karena pikiranmu ada di masa depan. Kamu khawatir pada hal yang masih belum ada.

Banyak ajaran agama atau filsuf yang menyarankan demikian. 

“Yesterday is gone. Tomorrow has not yet come. We have only today. Let us begin.” – Mother Teresa

“Do not dwell in the past, do not dream of the future, concentrate the mind on the present moment.” – Buddha

actually, to be the best of you, you have to be present.

Sebenarnya kunci hidup tenang juga “being in the moment”.

Nggak percaya?
Mau contohnya? 

apa hobimu?
masak? menggambar? melukis? membaca? menyanyi? main piano?

Lakukan itu.

ketika kamu melakukan itu, kamu merasa “stress"mu hilang (pada saat itu).
Kenapa bisa begitu? karena disaat kamu melakukan itu, hati dan pikiranmu hadir sepenuhnya pada "saat itu”. 

 (Sebagai bonus karena kamu hadir pada saat itu, kamu juga akan terlihat keren. Melihat orang yang passionate pada sesuatu yang dilakukannya itu keren, kan? I mean, coba lihat orang melukis atau main piano, dia seperti ada di dunianya sendiri. Really cool

Kamu tidak sedang memikirkan masa depan yang menakutkan,
atau masa lalu yang penuh penyesalan.
Kamu sedang sepenuhnya hadir pada saat ini.


Present.

In the moment.

The real you.

Hidup itu untuk apa? untuk bahagia.
Kerja, nikah, punya materi, traveling, bisa beli es krim atau makan enak, untuk apa? untuk mencapai kehidupan yang bahagia.
Tapi bagaimana bisa bahagia kalau kita selalu tertekan?


“Don’t cross the bridge until it’s there”

Apabila jembatannya belum terlihat, ngapain kita stress mikirin gimana cara melewati jembatannya? siapa tahu jembatannya luas sehingga gampang dilalui, siapa tahu jembatannya roboh sehingga kita nggak boleh lewat? Siapa yang tahu? 

nikmati aja perjalanan menuju jembatan itu, lihat kanan kiri, lihat itu ada taman bunga yang cantik di sebelah kiri, nggak mau mampir sebentar untuk mencium salah satu bunganya? atau rebahan sebentar di rumputnya.
nikmati segala jalurnya, tikungannya, pelan pelan.
kalau buru-buru, kamu mungkin akan “do stupid things”
dan mengulangi lagi kesalahan “umat umat terdahulu”. 

we have to save ourselves.

sambil jalan, kamu mungkin akan menemukan jalur jalur alternative yang akan membawamu ke tempat yang lebih tepat untukmu. Kalau kamu buru-buru, jalannya bisa terlewat begitu saja.

Pikiranmu, stressmu, sesungguhnya tidak akan membawamu kemana-mana. It’s your small step that will take you there. 

Jadi bekerja keraslah dan hiduplah untuk saat ini. 

 Apabila pikiranmu ada di masa depan atau masa lalu lagi,
tarik nafas,
fokus ke pernafasan,
Lakukan beberapa kali sampai kamu keluar dari “mesin waktu” dan mulai merasakan sentuhan di jarimu dengan baik.

Kamu harus kembali ke masa kini. 

Ingat ini: 

Do it, and let the Universe do the rest of it.Calm down. Slow down. You’re not left behind. You are not on a race.

Kamu pengen ngapain? Lakukan aja.
Lapar? Makan.
Ngantuk? Tidur.
Pengen berenang? Renang. 

Aku pernah ada di situasi tengah malam, lapar (saat ini), aku punya roti, tapi nggak banyak, rencananya mau aku pake buat sarapan besok paginya (masa depan). Jadinya aku kelaparan (Saat ini).
And i realized it was just stupid,“What the hell i’m doing, let me just eat this whole bread, i’ll fuck myself tomorrow”Aku makan rotinya dan tidur dengan baik. Besok paginya aku beli roti di convenient store. 

Ini kejadian simpel yang bikin aku belajar akan pentingnya menghargai “saat ini”.
Kalau aku nggak makan roti itu, karena khawatir besok pagi akan kelaparan, aku akan susah tidur dan menyiksa diri sendiri, akhirnya bangun kesiangan, nggak sempet beli roti.

 Nggak dapet semuanya.

Jadi teman-teman,
Hadirkan diri kalian sepenuhnya untuk saat ini dan
Selamat hidup dengan tenang,

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s