Kapan Pulang?

Tulisan ini dibuat super mendadak, karena sebenernya tadi seharian udah nulis blog yang rencananya mau diupload malam ini, tapi entah ada angin apa, aku buka blognya Pandji di Pandji.com

scroll scroll scroll 

ada tulisan yang berjudul “Kapan Pulang?” Ini pertanyaan yang ditujukan pada WNI yang tinggal di luar negeri dan kebanyakan di antara mereka seolah “enggan untuk pulang”, padahal mereka notabene adalah orang asing, tinggal di negara asing. Kenapa mereka betah disitu?

Kapan pulang? Dan apa salah Indonesia?
Dengan pertanyaan sama, aku akan menjawab.

Kapan pulang? Jawabannya adalah: segera.
Tapi jawabannya juga akan dilanjutkan: dan aku akan segera kembali lagi ke Jepang.

Aku akan berjuang untuk tetap bertahan di sini. Memang susah, tapi worthed.
5 bulan aku disini, Nagoya, dan dalam 5 bulan ini aku merasa bahwa ini adalah 5 bulan terbaik dalam hidupku.

Hidupku lebih teratur dan seimbang,

Semua ini berkat transportasi yang baik.  Di Jepang, semuanya serba teratur, mereka mempunyai sistem yang well built. Masyarakatnya pun sadar akan pentingnya menghargai waktu. Di Indonesia aku sering diejek dan sering juga mengeluh karena rumahku yang di Kepanjen dan kuliah di Malang. Jarak kedua kota adalah 20km, not really far, but it feels far.
It takes 45 minutes in normal day and more in hectic day. Kalau janjian sama aku, akan susah apabila mendadak, aku akan menghabiskan waktu lebih kurang 1 jam di jalan karena apa yang terjadi di jalan antara Kepanjen-Malang akan susah terprediksi: macet, ada karnaval, ada nikahan, mobil mogok, kecelakaan, banjir, penggalian pipa dan lain lain.
Beda dengan di Jepang, aku punya teman yang jarak rumahnya dia dan sekolahnya adalah 2 jam.
Dan dia “survive”.

Juga aku punya teman yang tinggalnya beda provinsi, ada yang di Mie Prefecture dan Gifu Prefecture. Oke mungkin karena luas wilayah di Jepang nggak seluas Indonesia, tapi jarak antara Mie Prefecture ke Nagoya (Aichi Prefecture) itu 90km sedangkan dari Gifu ke Nagoya itu 43km. Apakah ini masih terbilang dekat?
Enggak.

Tapi mereka survive.

Mereka survive karena Jepang punya sistem transportasi yang bagus. Kecuali ada hal yang luar biasa terjadi, (bis mogok atau rel kereta yang bermasalah) maka dia bisa sekolah dengan lancar. Anak kuliah juga begitu, banyak di antara mereka yang jarak universitas dengan rumahnya 1 jam lebih, lebih jauh dari Kepanjen-Malang. Dan mereka nggak perlu ngekost, karena apa? Karena transportasi lancar. Selain lancar, juga cepet, selain cepet, juga banyak.. Tiap 6 menit akan ada kereta lagi, lagi dan lagi. Teratur.

Jadi kalau aku janjian sama temenku, dia bilang dia akan sampai dalam 15 menit, ya dia akan sampai dalam kurun waktu yang kurang lebih sama. Keteraturan membuat segalanya gampang terprediksi.

Terprediksi membuat hidup lebih mudah.
Hal yang kayak begitu nggak ada di Indonesia, jarak antara rumah ke sekolah 2 jam? Ya mending pindah sekolah. Bahkan banyak anak Kepanjen yang memutuskan ngekost hanya untuk kuliah di Malang.

Juga karena aku suka jalan kaki dan pejalan kaki adalah pengguna jalan nomor 1. Di sini diterapkan dengan baik. Pedestrian luas, nyaman, bahkan ada trek untuk orang tunanetra dan juga trek untuk pengguna sepeda. Indonesia? Pedestrian dipakai untuk jualan, parkiran, bahkan jadi “track tambahan”.

Jadi waktu kita nggak habis di jalan, sejujurnya ini adalah masalah utama kenapa aku nggak bisa membayangkan hidup di Indonesia lagi. Aku udah nggak mau stress di jalan karena macet, karena kerja seharian udah cukup bikin stress, bukan?

Jadi diri sendiri, open minded

Aku menjadi diri sendiri ketika di negara asing, ironis bukan? Kenapa bisa begitu? Karena
1. Aku sendirian, jadi lebih mengenal diriku sendiri
2. Masyarakat yang open minded, mereka terbuka pada hal-hal yang berbeda. 

Inilah kenapa Liberalism suits me the best. Aku harus jujur. Karena hanya orang yang “dewasa” yang bisa memahami “Liberalism” dengan baik. Karena apa? Kita dapat melakukan apapun, hanya aturannya jangan sampai melanggar kebebasan orang lain juga. 

Aturannya jelas. Sederhana. 

Ketika di Indonesia, masyarakatnya cenderung “peduli” dengan orang lain, dan juga banyaknya stereotype yang menurutku “so last year”. Tipikal negara dunia ketiga. Sebenernya ketika di Indonesia, aku nggak kerasa. Baru kerasa ketika tinggal di luar negeri.

Seperti misalnya:

Di Indonesia banyak konflik yang berbau SARA, karena masyarakat yang masih “peduli” dengan hal ini. Sayangnya, seperti yang pernah aku tulis sebelumnya, di negara yang heterogen seperti ini, selain dipisahkan oleh suku, juga satu suku masih dipisahkan oleh agama, satu agama dipisahkan oleh aliran, satu aliran bahkan masih dipisahkan oleh hari lebaran. Sangat sangat beragam dan sangat gampang “senggol senggolan”. Tidak bisakah hidup dengan baik atas nama nasionalisme saja?

Karena hidup jadi tidak nyaman. Kita terlalu terikat pada background kita.
Overly attached. 

Once you lived abroad, you know this is unnecessary things.

Disini nggak ada yang kayak gitu, sebagai contoh, aku sebagai orang muslim, mereka tahu aku nggak boleh “minum”, maka mereka nggak akan ngebolehin aku minum kalau lagi sama mereka. Mereka punya keyakinan yang berbeda, tapi mereka tahu kalau aku melanggar prinsip keyakinanku adalah perbuatan yang salah. Mereka ikut menjaga. Nangkep nggak maknanya?

Begitulah,

Itulah kenapa belakangan ini aku stress, menyadari bahwa aku harus pulang dalam waktu dekat. Meninggalkan kota dan segala keteraturannya, dan segala yang ditawarkannya. Kembali ke kehidupan lama yang serba intervensi, serba “mengejutkan”.

Tapi setengah mati lagi aku apply kerja disini. Karena kehidupan yang baik layak untuk diperjuangkan.

Worthed.

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s