Another Sentimental Post

Surprise,

Belakangan ini aku lumayan produktif menulis blog,
Karena sejujurnya belakangan ini aku mellow,

Setelah sekian lama hidup dengan stabil,
Terakhir kali aku mellow adalah ketika awal-awal datang ke Nagoya ini.

Sebenarnya aku nggak tau makna tulisan ini apa, tapi aku cuma berusaha mengeluarkan apa yang bikin hati ini mellow, karena aku ini tertutup banget dan aku butuh meluapkan ini.

Mungkin tulisan ini juga nggak ada alurnya, aku cuma menuruti perasaan, mungkin juga di ujung tulisan ini aku menemukan jawabannya, mungkin juga akan tetap menggantung. Aku harus nulis ini agar nggak depresi. At least menanggulanginya sejak dini. Orang depresi itu kebanyakan nggak tau masalahnya apa, tapi dia merasa ada yang salah. Makanya bingung.
Itu karena sentuhan sentuhan kecil di hatinya yang biasa dia acuhkan yang di kemudian hari menyisakan lubang besar yang merupakan kombinasi dari semuanya. Makanya dia bingung, kenapa dia sedih, padahal nggak ada hal yang membuat dia sedih.

Sebenernya sumbernya (atau muaranya?) sama: perasaan/hati/emosi.

Mungkin aku mellow karena belakangan ini aku investasi emosi terlalu banyak, terlalu banyak kejadian yang sudah menyentuh emosiku. Bermacam-macam bentuk perasaan seperti: senang, takut, sedih. Semua aku alami dalam 2 minggu ini. Udah pernah aku bilang kan bahwa sedih atau senang atau bermacam-macam bentuk perasaan itu sama sama investasi emosi?

1. Semua ini bermula ketika pada suatu sore aku habis jalan-jalan dengan Maeda san dan istrinya dari Mie Prefecture (ceritanya udah aku tulis di post sebelumnya). Senang.

2. Ketika perjalanan pulang yang waktu itu hujan, (hujan selalu membawa melankolisme) aku lihat pemandangan yang menurutku itu cukup puitis: sore itu ada anak sekolah yang berteduh di depan stasiun menunggu hujan. Yang entah ketika melihatnya, aku langsung terbayang betapa masa masa sekolah/kuliah itu adalah masa-masa terbaik dalam hidup kita. Masa dimana segalanya serba terbatas dan juga nggak punya banyak uang. Mungkin di masa depan kita akan punya mobil, dengan gampangnya pergi kemana-mana. Tapi masa ketika kita masih naik kendaraan umum atau kita yang terjebak hujan ketika pergi naik motor inilah masa-masa yang akan kita rindukan. Kita punya banyak teman. Yang kadang kita sering menolak ajakan mereka untuk main. Tapi sekarang mereka udah banyak yang pergi. Mereka melanjutkan hidupnya masing-masing. Beberapa diantara mereka udah menikah. Berapa persen kemungkinan untuk bertemu? Sudahkah kita mengucapkan perpisahan yang layak? Mellow.

3. Kemarin dalam satu hari aku juga merasakan emosi yang bertolak belakang. Aku yang penakut ini naik roller coaster yang gila banget, dan salah satunya adalah yang terbesar di dunia. Aku takut setengah mati. Takut. Tapi di hari yang sama juga aku diajak ke tempat yang menurutku adalah tempat yang sempurna untukku, yang untuk kesana perlu naik gondola. Aku pun naik gondola untuk pertama kalinya. Kanan kiri masih hijau, dan banyak taman. Banyak keluarga yang kesana, yang kencan, anak anak yang mencari capung. Indah. Juga malam harinya aku lihat festival kembang api yang indah banget. Sejujurnya itu juga pertama kalinya aku lihat kembang api. Senang. Excited.

4. Besoknya aku juga keluar sama temanku, hari itu adalah hari terakhir aku bisa ketemu dia, minggu depan dia mesti pergi ke USA selama satu tahun, (yang saat dia pulang, mungkin aku udah nggak di Nagoya, aku akan di Tokyo likely, atau Osaka atau Blitar, atau Gresik, atau Madiun atau Bondowoso, bla bla pokoknya dimana kantorku lah) dia dapat beasiswa. Anak ini pinter banget, bahkan TOEIC nya 940 an, aku akrab sama dia karena dia bisa ngobrol dengan bahasa inggris dan bahasa jepang nggak pake mikir. Sesuatu yang sulit aku dapatkan dengan teman Jepang yang lain. Jadi pas aku stuck mau ngomong pake Japanese, aku langsung aja ngomong pake English. Dan dia akan jawab pake either English atau Japanese. English nya pun nggak American Accen jadi semuanya aku mengerti. (Biasanya orang Jepang kalau ngomong bahasa Inggris susah banget dimengerti, logat Jepangnya kuat banget) Hari itu aku ajak dia ke tempat tempat yang aku pikir akan memorable. Demi apa? Demi kenangan. Ketika aku pamit, aku nggak ngucapin “sayonara” atau “good bye” yang aku nggak suka. Aku ngucapin “mata itsuka ne” atau “sampai jumpa suatu hari nanti ya”, “datanglah ke Bali, aku akan jadi guide mu”. Kemudian aku membalikkan badan, dia masih berdiri disitu ngeliatin aku, sampai beberapa kali aku tengok dan dia masih di posisi sama, sampai aku menghilang. 

Hari itu aku senang, tapi diakhiri dengan sedih sampai hari itu berakhir. Mellow. Aku sedih menerima kenyataan bahwa mungkin kita nggak akan pernah ketemu lagi. Kecuali mungkin kalau aku tetap berada di Nagoya, Aku cinta sama kota ini. Ini kota yang menurutku sengaja diciptakan untuk memenuhi spesifikasi kota impian dari sudut pandang Vian. Tapi kalau aku tetap di Nagoya pun orang-orangnya, teman-temanku suatu hari nanti akan meninggalkan kota ini juga. Sama seperti Malang, yang selamanya akan jadi rumahku, tapi orang-orangku sudah pergi. Malang tetaplah kotaku, tapi bukan Malang yang ketika ada kita semua, lingkaran sosialku. Fuck. I miss you guys. Suatu hari ketika kalian balik ke Malang, kalian akan sadar bahwa udah nggak ada siapa-siapa disana, hanya kenangan. Tapi kenangan akan lebih abadi.

Dan aku udah banyak kenangan di Nagoya. Aku terlalu banyak investasi emosi. Sesuatu tidak boleh dilakukan oleh seorang “traveling boy”.

Kesimpulannya?

Ternyata nggak ada, mungkin aku cuma butuh didengar, jawaban yang mungkin aku dapat paling paling:

“Yaudah, sabar aja.. Namanya juga hidup.. Kamu akan membuat kenangan baru nantinya”
Atau
“Banyak banyakin berdoa aja, biar hati adem. ;)”

Masa sih…..

Masa sih aku nggak tau…

Ayolah.

Tapi aku jadi sadar bahwa bentuk “sayang” atau “care” ke orang lain itu bisa jadi adalah dengan merelakan mereka pergi tanpa terbebani, seperti orang tuaku yang merelakan aku pergi meninggalkan mereka, atau aku yang merelakan temanku pindah ke kantor yang lebih besar, atau pindah kota, atau kuliah di luar negeri. Jangan disuruh pulang. Apalagi sampai melarang pergi. Kita semua punya mimpi. Apabila kita sama-sama mungkin dia akan susah meraih mimpinya. Biarkan dia pulang ketika dia ingin pulang.

Ketika dia pulang pun, mungkin sudah banyak yang berbeda.
Belum tentu kalian masih satu pemikiran.
Tapi kenanganmu dengan dia, sekali lagi,
Lebih abadi ketimbang kenyataan ini.

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s