Pertemuan dan Perpisahan

Hidup mengingatkanku sekali lagi.

Kadar kebahagiaan sebuah pertemuan akan dibayar dengan kadar yang sama atas sedihnya perpisahan.

Sebenarnya, rasa sakit maupun rasa bahagia itu punya kesamaan:
Sama sama investasi emosi. Sama sama masuk di hati kita.

Dan dalam hidupku yang kini serba tak permanen ini, telah tiba masa dimana aku harus menemui pertemuan pertemuan, (yang aku sambut dengan tangan terbuka tentunya)
Tapi lupa untuk menyadari bahwa sebanyak apapun pertemuan, sebanyak itulah aku harus siap mengucapkan selamat tinggal.
Semakin mereka banyak memberikan kebahagian, sesakit itulah rasa sakitnya ketika mengucapkan selamat tinggal.

Kadarnya akan sama.

Orang yang bisa membuat kita bahagia adalah orang yang bisa membuat kita sakit.  Contoh sederhana; dalam suatu kelompok, secara alami kita akan punya teman yang lebih dekat ketimbang yang lain, orang ini adalah orang yang paing akrab dengan kita, yang bikin kita seneng. Ketika tiba waktu untuk berpisah dengan dia, kelulusan misalnya, berpisah dengan dia akan terasa lebih berat ketimbang berpisah dengan yang lain kan?

dalam romansa misalnya si A pacaran dengan si B, si C yang notabene “nice guy” geregetan ngeliat si A “disakiti” terus oleh si B. Si C pengen bilang “tinggalin dia aja sih, kan ada aku, udah tau dia nyakitin kamu terus”. Sejujurnya, justru si B bisa nyakitin si A inilah orang yang bisa bikin si A merasa bahagia, bukan berarti si B itu bad boy. Si C nggak bisa nyakitin si A karena memang si A nggak mengijinkan atau menganggap si C membahagiakan dia.

Begitu.

Dalam kasusku sekarang, sebagai orang yang merantau, aku banyak berjumpa dengan orang orang baru, tapi karena sifatku yang perantau inilah aku harus siap untuk melepaskan mereka satu persatu.

Aku sedih.

Aku cukup sedih sampai aku berlama-lama memandang keluar jendela dan mendengarkan lagu lagu mellow.
Sebelum akhirnya aku mengeluarkan semuanya dalam tulisan ini. (Tulisan ini pun dibuat dengan duduk di pinggir jendela apartment)

Padahal aku udah nulis beberapa tulisan yang siap upload.

Dasar perantau yang hatinya lemah..

Tapi dalam titik tertentu, bukankah hidup ini memang sebuah perjalanan kan?
Kita semua perantau.

Bersiaplah untuk bertemu dengan orang orang baru, dunia baru, tapi jangan lupa, siapkan hatimu untuk mengucapkan perpisahan yang layak. Paling nggak, ucapkan:

“Aku bersyukur pernah bertemu kamu”

「あなたと出会えて、よかった。めちゃ楽しかった、またいつかね」

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s