Attitude

Baiklah, dari mana kita mulai,
aku pengen nulis tentang ini aja sih,

“Tentang apa?” Kamu bertanya karena tidak ingin membuang waktu.

Tentang Budi pekerti. 

Tata krama.

 Perilaku. 

You get the point.

Semua ini bermula ketika bantuin temen kerja, sebut saja si A, (kayaknya kalau disebut “si Fulan” terlalu ke Arab Araban, dan nggak match juga) masukin barang (yang berupa paket-paket kecil untuk dipindahkan ke box yang besar) untuk dikirimkan ke customer, sebenernya aku bantuin karena posisiku lagi dekat dan karena barangnya pun ada banyak juga karena aku kerja di situ. 

Selesai aku bantuin si A, aku ganti bantuin si B.

Mereka berdua perempuan. 

Kemudian si B bilang ke si A dengan pelan “bener-bener gentleman ya” singkatnya.
Karena aku denger, aku nanggapin “kenapa kenapa?”
“Enggak, Cowok Jepang tuh ya, nggak pernah kayak gitu, ladies first personality”
jawab si B.
terus aku ketawa dan merendah.
Terus dilanjutin cerita tentang cowok Jepang yang “dingin" 

Iya memang cowok Jepang itu pemalu apa gimana, mereka itu terasa dingin, padahal mereka baik.. tapi karena dingin, makanya terkadang kebaikannya itu nggak "tersampaikan dengan baik”.

Tentu nggak semua cowok Jepang.
Ini hanya kecenderungan.
Kebetulan mungkin cowok-cowok di lingkaran sosial si A dan B ini mayoritas adalah yang pemalu.
Tapi aku kenal beberapa cowok Jepang yang lebih perhatian daripada cowok Indonesia kok.
Tapi karena aku juga cowok, tentu bentuk perhatiannya bukan dengan mengingatkan sudah makan apa belum. Karena akan awkward.
Tapi langsung beliin makanan. Like a man. Ini beneran. 

Kalau diingat-ingat, aku nggak sekali dipuji sebagai “Gentleman” atau sejenisnya dan itu oleh orang-orang yang berbeda yang padahal hanya melakukan hal-hal kecil seperti membawakan keranjang belanjaan dan kantong belanja ketika belanja bareng,
mempersilahkan masuk atau keluar lift duluan, nahan pintu ketika ada orang lain mau masuk atau keluar, minjemin payung karena emang bawa dua (“kenapa kamu sampai bawa dua payung sih yan? Modus banget ini anak.” Iya.. kemarinnya lupa bawa pulang yang satu, aku kadang pikun),

benerin pot bunga yang kesenggol di pinggir jalan, ngasih tempat duduk ketika di kereta, well, secara umum aku hampir nggak pernah duduk di kereta sih, kecuali sepi ya, soalnya merasa bersalah aja bisa enak enakan duduk padahal masih ada yang lebih membutuhkan tempat duduk dan bla bla bla. 

(Sorry aku harus ngasih contoh, tapi percayalah maksudnya bukan untuk show off. Ini semata agar tulisan ini lebih panjang. Seperti mentalitas mahasiswa yang nulis skripsi, kata-katanya dipanjang-panjangkan agar skripsinya tebal. Padahal maknanya kalau dipersempit bisa aja ditulis di Twitter, paling cuma habis 3 tweet

Aku selalu dipuji dan selalu dibahas “gentleman” itu.
Nggak, aku nggak sampai membawakan tas cewek, itu nggak boleh.
Bedakan gentleman dengan pelayan. 

Apabila kalian berpikir “ini adalah karakter orang Indonesia”
enggak juga, atau mungkin sedikit banyak memang iya, gimanapun “software”ku emang Indonesian, tapi jujur aku nggak belajar dari situ, yang memiliki andil paling besar untukku adalah justru aku belajar ini semua dari perempuan-perempuan Jepang itu sendiri. 

Lah, kok bisa? 

Yang aku lakukan adalah apa yang dalam ilmu psikologi disebut “Mirroring”Apa itu Mirroring? 

“Mirroring is a social phenomenon where people mimic another person’s posture, gestures, and words. It’s often an unconscious behavior – we are rarely aware of it when we do it – but it’s a sign that people are attuned and in sync to one another.”

Jadi sebagai upaya untuk “nge-blend” atau sebagai bukti bahwa telah “nge-blend” kita biasanya (secara disadari atau tidak) akan mempunyai kemiripan tingkah laku dengan individu atau komunitas.Nah usahaku ini, lebih ke upaya untuk nge-blend.Kenapa untuk nge-blend kita mesti mirroring?simple, karena semua orang suka pada diri sendiri,dan secara alami akan suka pada hal yang mirip diri sendiri.

at least lebih gampang suka. Sehingga kita lebih mudah diterima.
Jadi kalau kalian pengen cepet akrab sama orang lain, lakukan mirroring nada bicara, gaya tubuh, emosi, dll. You will feel the different! Sounds tricky? not really.

Begini, ketika datang ke Jepang, aku menyadari bahwa betapa perempuan-perempuan Jepang itu punya karakter yang secara umum “inilah tipe perempuan yang aku cari” mereka sopan, kalem, dan “melayani” dengan baik. Tapi nggak needy, mereka ini mandiri. Sehingga nggak “overly attached”. Percayalah mereka nggak ngambek meskipun jumat malam atau malam minggu nggak diajak kencan. Ini ada baiknya, karena kencan jadi ada kesan “istimewa"nya, bukan karena kewajiban. Jadi sebulan ketemu 2-3 kali itu udah seneng.

Tapi apresiatif, dikit-dikit memuji. Dikit-dikit minta maaf dan bilang terima kasih. Bahkan hanya mempersilahkan keluar lift duluan dan kita nahan tombol liftnya udah bilang "terima kasih” artinya mereka nggak “take for granted”, bukan yang “karena kita perempuan, sudah seharusnya laki-laki kayak begitu”. Mereka gampang tersentuh. Karena mereka terbiasa nggak punya espektasi akan diperlakukan demikian, mereka cuma pengen diperlakukan kayak begitu biar kayak di manga/anime/drama. 

Sebenarnya, apa yang perempuan-perempuan Jepang ini lakukan adalah hal-hal yang sederhana, sesederhana; ketika makan bareng, mereka secara otomatis akan at least ngasih tissue, sumpit, atau nuangin makanan atau minuman. Ketika mau keluar masuk apapun, mereka cenderung mempersilahkan orang lain terlebih dahulu. Dan banyak hal lain lagi.


Sebagai laki-laki yang biasa diperlakukan dingin, secara alami aku pun tersentuh. 

Aku merasa “ternyata enak yaa kalau semua punya karakter kayak begini, bikin orang lain merasa dihargai. Aku akan menerapkan ini juga ke orang lain”

Mereka memang memberi contoh perbuatan yang berbeda, tapi memberikan inspirasi karena secara esensi sama-sama memperlakukan orang lain dan lingkungan dengan baik. 

It get me triggered.

Aku melakukan hal yang sama.
Tapi jadinya aku dianggap gentleman. Padahal aku terinfluens oleh mereka.

Mungkin kuncinya adalah: lakukan hal yang kamu ingin diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Dibalas atau nggak.
Tapi kamu akan memiliki perilaku yang baik,
Kalian suka “inner beauty” kan? Ya hal-hal yang kayak begini yang harus kalian lakukan,
Bukan “inner beauty” gadungan yang sebenarnya hanya tameng karena males buat memperbaiki penampilan atau takut dicap “menyukai orang karena fisik aja, itu nafsu

Padahal, kalau bicara kecantikan, kita akan bicara penampilan, kecantikan adalah sesuatu yang nampak di mata dan suka karena fisik itu sangat alami.
Jangan naif kamu.

 Tapi yaudahlah yaa, kali ini bahas “inner beauty” aja,
Inner beauty adalah budi pekerti yang baik,
Attitude yang baik,

Dan harus diterapkan dengan baik

Orang nggak bisa lihat putihnya hatimu. 

Cantik dan bersayapnya hatimu. 

Dan nggak akan minta tunjuk KTP-mu untuk lihat agamamu apa, (ya karena di Jepang nggak ada KTP juga)

Tapi orang bisa lihat perilakumu. 

Attitude mu.

Jadi lakukan! 

Salam,

Vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s