Pertanyaan Mendasar

Beberapa hari yang lalu bosku tanya pertanyaan yang sangat mendasar:

“Kamu udah di Jepang,

Kamu pengen kemana?

Kamu pengen ngapain?

Kamu selalu bilang nggak tau kalau ditanyain pengen kemana, pengen ngapain, kamu harus mikirin itu, atau kita akan mendaki gunung Fuji dalam waktu dekat.”

bosku bilang begitu dengan muka serius.

No, i will do everything instead of climbing mount Fuji.

Aku mikir..
udah beberapa detik berlalu, nggak ada jawaban yang muncul.
Sepertinya, meskipun nunggu sampai sejam, jawaban itu juga nggak akan muncul.
Karena emang nggak pernah aku pikirkan.

Bener juga, aku udah sampai di Jepang, negara yang nggak bisa dibilang deket dari Indonesia.
Untuk orang yang masih takut ke Surabaya sendirian, pergi ke negara lain itu salah satu definisi nekat yang tidak dianjurkan.
Tapi kenapa aku harus pergi sejauh ini? lebih tepatnya, kenapa aku nekat pergi sejauh ini?

Kerja? emang di Indonesia nggak ada pekerjaan?
Wisata? Indonesia punya tempat wisata juga, meskipun beda jenis.
Yang jelas aku nggak mencari hiburan sebagai tujuan utama.
Makanya aku nggak kepikiran untuk melakukan hal hal yang bersifat entertainment disini, bahkan nggak browsing tempat-tempat menarik.
Aku cuma pengen ke Jepang. Udah itu aja.

Apa sih yang aku cari?
Iya memang aku mencari pekerjaan, aku disini datang untuk kerja.
Tapi kalau udah dapet?

then what’s next?

I have a brainfreeze.

Setelah aku merenung, berusaha mendengar apa yang hati kecilku ingin ungkapkan, mungkin dunia terlalu bising hingga membiaskan suaranya yang begitu lembut. Atau mungkin aku terlalu angkuh karena nggak mau mendengar suara-suara kecil? 

Aku harus Log in.

Berkunjung dan mengaksesnya sesegera mungkin.

seperti tweetnya Sudjiwo Tedjo yang cukup ngena di sanubari ku:

Ada yang umur 20an punya firasat untuk sowan (berkunjung) ke diri sendiri, ada yang setelah 50an baru sowan ke diri sendiri.  Kalian sering sowan ke kiyai, pandita, pastur, bikhu dll tapi kadang lupa sowan ke diri sendiri. Sowan ke diri sendiri juga perlu perjalanan cuk, malah lebih panjang dan berliku.”

Maka aku memutuskan sowan ke diriku sendiri, aku sering sowan ketika sebelum tidur dan ketika mandi. Nah jawaban ini muncul ketika aku lagi mandi. (well, Kebanyakan tulisan di blog ini datang ketika mandi)

Yang aku cari adalah kehidupan itu sendiri.

I’ll take everything along with.

I want a better life, pursuing my ideal life.

If it cost with job, i’ll do it.

Apa yang melatar belakangi keinginan tersebut? untuk mendapatkan jawaban ini, harus mundur ke belakang,
mari kita bahas di bab Latar Belakang berikut:

Latar belakang

Aku ingin hidup di negara yang kita tidak usah pusing hal-hal yang seharusnya tidak perlu kita pusingkan.
Seperti listrik mati, air mati, banjir, macet, ekonomi lemah, SARA, kebebebasan dan lain lain.
Sepertinya aku sering update status mengeluh dengan keadaan seperti itu.
Sampai capek.
Aku capek beberapa kali air mati di Kepanjen, listrik juga meskipun nggak sering masih beberapa kali mati.
Aku bahkan udah capek untuk sekedar berkomplain di sosial media, entah karena aku udah beberapa kali melakukannya. Komplain di sosial media aja udah males, apalagi sampai komplain datang ke kantor PDAM/PLN? 

Lama-lama aku jadi terbiasa dengan kondisi yang unstable.

itu untuk beberapa waktu.
Tapi aku nggak bisa kayak begini, aku nggak boleh merasa nyaman di kondisi yang aku layak mendapatkan lebih.

Kita layak mendapatkan lebih.

Sampai aku mulai menyadari bahwa nasionalisme itu sebenarnya absurd.

Aku bahkan nggak milih lahir dimana, tau-tau disuruh cinta dan siap bela aja.
tau tau disuruh nyanyi

“Maju tak gentar, membela yang benar..”

Tau-tau langsung dikasih ideologi,

“ini ideologi kita, ini paling tepat untuk kita. Ideologi selain ideologi ini nggak tepat untuk orang-orang seperti kita. Kita harus perjuangkan ideologi ini dari ancaman ideologi lain.”

ini baru contoh tentang ideologi.

Ini bisa jadi tentang apapun ya, kalau kamu tau-tau dengan butanya membela sesuatu tanpa mempelajari hal tersebut dan menemukan kecocokan dengan visimu sekaligus mempelajari “lawan” dari hal tersebut. Maka doktrin itu berhasil.

Congratulation!

Lain cerita kalau kamu udah mempelajari semua dan memutuskan bertahan.

Ya, nasionalisme adalah cinta yang lahir karena doktrin, lokasi, kesamaan nasib, ras, agama dll. Ini adalah

love by given, Not by choice.

Wajar, kalau nggak dipaksa, nggak ada negara. Kan salah satu unsur negara adalah “Rakyat”.
Tapi ini adalah cinta yang dijodohkan. Memang orang-orang yang dijodohkan pada akhirnya ada yang bahagia. Sependapat dan menemukan kecocokan. Tapi jangan lupa, pasti ada yang nggak bahagia.
Seperti aku. Atau kamu juga? (nggak, jangan ajak aku bikin negara baru, aku nggak punya kapasitas untuk itu.)

Padahal disitu aku nggak bahagia, tapi aku masih harus bilang “cinta”.
Sebagai orang yang menjunjung tinggi cinta, aku nggak bisa membohongi diri sendiri, aku tersiksa ngomong “cinta” tapi nggak “cinta”.
Kenapa aku harus merelakan diriku “dianiaya” sama sesuatu yang aku nggak bisa milih?

Dibela sih dibela, tapi worthed apa enggak?
Tuh, Yang dibela-belain masih ribet aja di atas sana.
Kita sama-sama manusia, kenapa mereka yang dari negara lain bisa hidup enak?
Kenapa tim nasional mereka dengan gampangnya masuk Piala Dunia sedangkan kita masih sibuk sama judi bola hingga di banned FIFA?
Kenapa mereka bisa hidup dengan nyaman menikmati fasilitas kelas satu yang negara mereka berikan tapi kita enggak?
Kenapa kita bertahun-tahun masih ribet di pembangunan politik?
Yang paling absurd adalah belakangan aku tau bahwa APBN Kementrian Agama lebih besar dari APBN Pendidikan, Pertanian, dan Riset? Juga kenapa banyak sensor dan block sana sini?
Kenapa? Untuk melindungi? dari apa? ideologi asing? budaya asing? emang segitu nggak percayanya sama kita? segitu nggak cocoknya budaya asing dengan budaya kita? segitu berbahayanya? banyak pertanyaan yang aku sendiri nggak punya kapasitas untuk bertanya. 

Diamlah dan bela saja.

WTH?

Aku protes.
Tapi tentu aku nggak demo seperti sebagian kecil dari kita,

“justru bentuk protes paling keras adalah dengan babar blass ndak ngurusi pemerintahan dan politik”

kata Sudjiwo Tedjo.

Diam adalah suara paling lantang.

Jika bicara cinta, mereka (orang dari negara lain) layak untuk mencintai dan dengan bangganya menyanyikan lagu kebangsaan mereka.
Lah kita?
Ahh..
Kita lebih tinggi dalam urusan mencinta.

cinta kita haqiqi.

cinta yang tulus tanpa perlu alasan kenapa.
Kita adalah pencinta yang baik.
Romantis. 

Kita orang-orang yang tulus. 

Bertahan meskipun disakiti. 

Kita Romeo.

Karena merubah Indonesia itu lebih susah ketimbang merubah diri sendiri. Rasional aja, aku nggak bisa jadi sekedar camat untuk bisa merubah Indonesia. Pun dengan jadi anggota DPRD, karena aku nggak suka dengan politik,

which is ironic because politic is my major.

Maka aku yang harus tahu diri,
aku yang harus pergi, aku harus mencari kehidupan yang  sesuai dengan idealismeku sendiri. Kita nggak bisa milih dilahirkan dimana, tapi kita bisa berusaha untuk hidup dimana.

Maka aku harus..
Hijrah.

Bukan karena aku mau enaknya aja, tapi iya aku mau hidup enak, emang kenapa nggak boleh? kita layak dapat kehidupan enak. Dan harga untuk hidup enak toh nggak semurah itu.
menurutmu untuk bisa pindah ke negara kayak begitu itu semudah masuk Indomaret? enggak, untuk bisa datang di negara itu, aku harus menyesuaikan diri dengan standar mereka, belajar bahasa mereka, melamar pekerjaan agar aku bisa hidup disana dan menikmati fasilitas mereka.

I’m not taking it for granted.

Aku berdarah-darah.

Itulah akhir bab latar belakang ini.

Anyway, apakah ada doktrin dari negara yang berhasil masuk ke pikiran dan hatimu?

Ada, kalau nggak ada, sampai saat ini aku nggak akan merinding dengar lagu “Tanah Airku”

“Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan”

Tuh tuh, aku nyanyi itu dalam hati, hatiku bereaksi.

WTF

Ini lagu memang Indah banget, dan harus diakui bahwa lagu “Indonesia Raya” juga punya komposisi yang sempurna sebagai

national anthem

Again, WTF.

Kembali ke pertanyaan awal,
Aku udah di Jepang, aku pengen ngapain?

Ngapain aja, kemana aja, ayok.
Udah nyampe sini aja aku udah bersyukur kok.
Dan ini adalah negara yang kalau mau ngapain aja enak.
Tunggu ya, aku akan mandi dulu.

Ehhh airnya mati nggak sih?

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s