Religion? Why it Should be Matters?

“Imagine there’s no countries,

It isn’t hard to do?

Nothing to kill or die for,

And no religion too..

Imagine all the people,

Living life in peace… 

You..”


Awalnya aku mengira lagu ini atheist, komunis, sampai menganggap lagu ini illuminati. Bejat! 

But the more i live, the more this song makes senses. John Lennon, now i understand what you tried to say to me.

Dalam lagu ini tidak melarang adanya agama. TIDAK. Tapi hanya membayangkan seandainya agama itu tidak ada, mungkin, MUNGKIN kehidupan umat manusia akan lebih damai. Tidak ada pemecah. Agama itu untuk mengatur hubungan antara Tuhan – Manusia dan Manusia – Manusia. Harusnya, orang yang percaya pada Tuhan akan berperilaku baik dalam masyarakat. Bahkan Nabi Muhammad datang ke dunia untuk “memperbaiki akhlak”. Agama tercipta untuk kebaikan. Menciptakan dan menjaga dunia yang baik dan dijanjikan akhirat kelak sebagai imbalan. 

 

Tapi apa yang terjadi? kita semua cuma takut pada neraka.
Kita merasa benar.
Kita merasa tinggi.
Kita adalah orang yang masuk surga sedangkan yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita adalah golongan yang masuk neraka.

 

“Loh ya emang gitu, sudah jelas di tulis di kitab ayat xx bahwa memang agama ini yang sempurna”, kamu mungkin berkata. 

Ya, memang. But that’s how religion works. Memangnya ada kitab suci yang bilang bahwa “agama lain lebih benar, kamu sesungguhnya tersesat.”? Ya bubar..
Sedikit-sedikit kita dengan gampangnya berteriak: 

“Ini ancaman untuk agama kita!” “ini propaganda!”“Ini Islamisasi!”“Ini Kristenisasi!”“Ini Shinto-isasi!”

bla bla bla

Kita saling curiga,
Kita saling wapada,

Apa sih kamu ini.. 

Padahal orang juga nggak akan segampang itu pindah agama, agama itu urusannya hati, nggak bisa dipaksa. Ini panggilan jiwa. Mau kamu jelasin dengan logika apapun, dengan ayat apapun, kalau nggak percaya ya nggak percaya. Kita sama sama tahu karena memang nggak semua hal dalam agama itu masuk akal, maka itu perlu iman. Kepercayaan. 

Dan kepercayaan itu urusan hati, tidak akan bisa dengan gampangnya dipaksa. 

Gimanapun bagi mereka, pindah agama adalah sesusah kita pindah agama. Susah. 

Maka sesungguhnya cara paling baik untuk mempromosikan suatu agama adalah dengan menunjukkan akhlak yang baik, bukan dengan ritual yang baik.
Contohnya muslim, ritual kita itu berat, rukun islam ada 5. Kamu bukan promotor yang baik kalau pengen ngajak orang masuk ke islam dengan cara mempromosikan ketaatan sholat atau puasa. Selain sekarang banyaknya islamophobia, orang juga cenderung nggak begitu suka dengan fanatisme. At least mayoritas dari masyarakat. 

Sekarang kita bicara peluang,

Emang gampangan mana sholat sama nggak sholat? enakan mana boleh makan dengan bebas sepanjang tahun atau puasa satu bulan dalam bulan ramadhan? “Yaelah sholat kok kamu anggap susah sih yan?” IYA karena kita berangkat dari islam, tapi bagaimana dilihat dari sudut pandang non-islam? Mereka sebelumnya nggak ada kewajiban itu loh. 

“aku kangen dengan bulan ramadhan..” errrr.. okay, you are a good person.

Tidak juga dipromosikan dengan ancaman. Dosa dosa. Semua orang tidak suka di paksa. Apalagi yang berangkat dari yang tidak percaya. Malah makin tidak percaya.
Ngapain?

Jadi, sesungguhnya kalau ingin mempromosikan suatu agama adalah dengan memiliki perilaku yang baik. Karena itulah makna Agama itu hadir.

Berhenti fokus melihat perbedaan, hidup aja dengan damai, setara. Kamu lahir dengan agama tertentu, lakukan dengan baik, belum tentu agama yang kita anut itu murni pilihan kita sendiri, dengan perjalanan spiritual yang kita alami sendiri, maka jangan memandang rendah keyakinan orang lain yang berbeda. Ini mindset sederhana, tapi output nya akan beda. Jauh. 

Belakangan lagu ini makin make sense ketika ada salah satu pejabat di Indonesia yang SARA nya minoritas, kerja beliau bagus, (atau biasa aja? aku nggak begitu tau) tapi yang jadi masalah adalah beliau terus terusan diserang karena faktor SARA tersebut. It’s not fair. Kita terlalu fokus pada itu. Sedangkan negara lain sudah memikirkan hal-hal advance. Cobalah tinggal di negara lain dan kamu akan merasakan bahwa kita tertinggal terlalu jauh. Betapa kita terlalu fokus pada hal yang sebenarnya nggak perlu dipermasalahkan. 

Jadi ingat beberapa waktu yang lalu sempat ada wacana kalau kolom Agama di KTP bakal di hapus, banyak yang nggak setuju, kalau dipikir-pikir, emang kalau nggak ada kenapa? ohh kolom agama itu juga ada pas pendaftaran kartu rumah sakit, come on.. again, it’s not necessary, secara administratif, ini udah nggak efektif dan secara tersirat, kita masih mengkotak-kotakkan diri kita menurut SARA, yang padahal dengan diversity kayak begini, harusnya Indonesia menyatukan itu semua, paling nggak dengan tidak membuatnya “as a big deal.”

Betapa kita ribet tentang akhirat, takut pada neraka,
padahal kita sudah tinggal di “neraka”. Kita hidup penuh curiga, penuh ancaman. Kebencian. Kesombongan. Kita sedikit banyak sudah tinggal dalam neraka itu sendiri.

Nggak layak kalau Karl Marx sampai bilang “Religion is the opium of the people.” Betapa kita sudah Messed up with religion too far from it’s mean. Tujuannya baik kok malah bikin kacau? 

Biarkan kita dipimpin oleh siapapun yang layak yang kompeten, sehingga Indonesia lebih kondusif, kalau situasi kondusif, melakukan apa-apa itu enak. Ibadah juga enak. Enak toh?

Katanya Pancasila? Yang sampai bikin kamu marah itu apabila Pancasila dirubah “simbol"nya apa maknanya? soalnya maknanya udah berubah dari dulu. Karena sila ke 5 jelas jelas nggak diterapkan. Kok nggak marah? Sila ke 1 pun kita udah sama-sama tahu penerapannya gimana.

"Vian, kamu masih islam? :)” katamu lengkap dengan emoji senyuman penuh makna.

Masih.

Aku juga masih melakukan ritual dengan baik.
Bedanya aku nggak mempromosikan diriku sebagai “si rajin ibadah”, biarkan hubunganku dengan Tuhan adalah urusanku dengan Tuhan, masyarakat cukuplah tahu atas perilakuku. Manfaatku. Kemanusiaanku. Aku pun juga nggak merasa paling benar atas keyakinan lain. Untuk apa? Emang kita sudah tahu kebenaran final?

Tapi kan sudah tertera dalam ayat…”

One more time, Dude, that’s how religion works. Semua pun memiliki keyakinan yang sama.
Berhentilah merasa paling benar. Itu tidak akan membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Mulailah mencintai Tuhan tanpa dasar takut pada neraka atau ingin masuk surga. 

Tapi atas dasar cinta. Atas dasar kekagumanmu pada Tuhan.

Dan buktikan rasa cintamu, kekagumanmu pada Tuhan dengan tidak hanya berhenti di bibir, di doa. Tapi mencintai sesama manusia, semesta, segala ciptaannya. 

Aku adalah kamu, kamu adalah aku.
Aku akan mencintaimu, sama seperti aku mencintai diriku sendiri.”
 

Sepertinya makna kalimat tersebut ada di semua agama. 

Jadi banyaklah bersyukur, banyaklah berbuat kebaikan.
Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, jangan kamu berbuat keburukan atas namaNya.

Dan mulailah berterima kasih pada John Lennon,

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s