Culture Shock Di Jepang?

Baiklah, karena tema kali ini adalah culture shock, maka yang akan ditulis disini adalah hal hal yang bikin shock. (maaasa sih..)
Tapi mungkin karena sama-sama asia jadi nggak begitu ada culture shock, silahkan disimak: 

– Ketika awal datang kesini cukup kaget soalnya orang-orangnya di Jalan kok jarang senyum, kelihatan cemberut, jarang eye contact, pake headset, main game, twitteran, dan terkesan “susah didekati”, gimana mau kenalan, orang nyapa aja susah, gimana mau nyapa kalo ngeliat aja enggak. padahal untuk orang baru kayak aku, butuh banget kenalan, butuh teman. 

– Juga yang bikin kaget adalah penggunaan pemanas makanan (Microwave), dimana-mana, jadi beli makan di convenient store, terus dipanaskan disitu. Bahkan untuk bikin nasi, setelah dimasak di Magic Jar, nasinya dikeluarkan semua dan dikepal terus dibungkus pake “wrapping plastic”, terus dimasukin freezer, (FREEZER! awalnya aku emang skeptis kok) nah kalau mau makan, tinggal dimasukkan di Microwave and Ready to go, simple. Nasi yang dimasukkan freezer bisa bertahan selama 1 bulan. BEEH! padahal di rumah ada microwave tapi nggak pernah dipake, kok nggak kepikiran yah? padahal bisa hemat beras dan waktu banget daripada bikin tiap hari dan yang nggak habis dibuang. Soal rasa? sama aja. Coba aja. 

Cewek pake rok pendek naik sepeda dengan santainya, but seriously cewek sini kalem kalem, bukan tipe pecicilan, dan suka pake rok, masalahnya kadang roknya pendek banget (terutama anak sekolah) dan kadang naik sepeda dengan cueknya pake rok pendek gitu aja, losss.. Jujur, sampai sekarang nggak pernah aku lihat cewek yang naik sepeda sampai CD nya kelihatan, bukannya berharap juga, tapi kok bisa nggak kelihatan? kan pake rok! ahh.. kok bisa ya.. besok penelitian lagi deh. 

– Makanannya, harus diakui rasa makanan di Jepang itu rasanya nggak begitu kuat, mereka minim bumbu. Emang dasar lidah Indonesia yang udah terlatih dengan Masako, kecap manis dan cabe, makan di Jepang tidak akan memuaskan. Butuh waktu agak lama sampai menemukan makanan yang cocok di lidah. Tapi lama-lama biasa juga, bahkan ada makanan yang pasti akan aku rindukan kalau aku pada akhirnya meninggalkan negeri ini semisal: Sundubu, Tebasaki, Kare Rice, Udon, Chahang,…, McD, OH McD disini nggak ada ayam, nasi, bahkan spaghettinya. disini cuma ada burger dan nugget, dan menu dessert/cake yang ganti-ganti gitu tiap musim, dessertnya enak-enak banget oh my God. kadang-kadang pengen tetep makan yang itu, ehh udah ganti. Harganya makanannya? jangan di Rupiahkan. Rupiah emang lemah. 

– Habis ngomongin makanan, mari kita ngomongin toilet. Aku perfeksionis banget soal toilet. Jujur aja, jijikan. Setelah kaget setengah mati waktu di Makau nggak ada air yang nyemprot, jadi cuma pake tissue. Syukurlah Toilet di Jepang itu kering, bersih banget dan elektronik. Iya disini pun pake tissue, tapi nggak cuma tissue kayak di Macau/HK, disini juga ada semprotan airnya (bukan bentuk selang kayak di Indonesia yaa), habis itu tissuenya juga dibuang di toilet, soalnya hancur kena air. Bersih, saking bersihnya, bahkan di wcnya biasanya dikasih bantalan kayak kursi gitu. Dan kalau pemalu, seperti aku, disini toilet dilengkapi speaker untuk ngeluarin suara gemericik air untuk membiaskan bunyi “aneh-aneh” kita waktu poop. (aku biasanya nyalain air keran kalo di Indonesia, jadi kalau disini nyalain speaker aja, nggak buang-buang air, genius). Udah bersih, nyaman, free pula. (Kenapa pula kita harus bayar untuk ke toilet?)
Man, i think it’s gonna be difficult to go back. Aku nggak kepikiran balik ke toilet basah, apalagi jongkok, dan mungkin agak geli kalo pake tangan.. lagi. Standar toiletku udah naik. Dan ini masalah besar.

– Oh iya, di Jepang, dimana-mana pake Slipper, jadi kalo bertamu pun ada slipper untuk tamu, di toilet pun ada dan nggak boleh jadi satu. Slipper toilet hanya untuk toilet. 

Mandi, disini kamar mandinya lagi-lagi kering, biasanya ada bathtub dan shower, mereka mandinya sekali sehari, either pagi atau malam banget sebelum tidur. Enak banget, kalau udah mandi malem, paginya bangun tidur tinggal cuci muka sikat gigi and you are ready to go. I do this often. Jadi nggak buru-buru mandi pagi mengejar waktu. Kenapa pula harus mandi dua kali dalam sehari?

 

Nggak pakai deodorant. Really? aku pemakai regular deodoran, tapi orang Jepang nggak pakai deodoran, jadi aku ikutin dan memahami; kenapa pula selama ini aku harus pakai deodoran? ternyata nggak ada efeknya. Apakah orang Jepang bau badan? enggak. Entah kenapa. Mereka bau shampoo atau pewangi pakaian, cuma 2/10 yang wangi parfum. Kenapa aku tahu? karena aku pemerhati aroma. 

 

One of the best thing in Japan: nggak harus setrika! udah hidup di sini selama beberapa bulan, cuma setrika 2 kali, yang bajunya kusut banget, basically pake baju agak kusut disini adalah hal yang wajar, dimana-mana orang pakai baju yang kusut dan terlihat keren, bahkan baju baru pun kayaknya dibuat sengaja “kusut style” (?) pas dipajang di mannequin. Nyuci di mesin cuci yang bajunya langsung kering, paling diangin-anginin semalam, paginya udah siap pake. Life is easy. 

Jam tidur, mereka tidur jam ½ pagi, aku yang awalnya anak yang tidur jam 11, tapi sekarang aku ikutan tidur jam ½, paginya bangun jam 7/8/9 selayaknya orang Jepang. Bangun jam 6 dan kuliah jam 7 udah nggak mungkin. Oh iya, disini sekolah atau kerja pada mulai jam 9-10. Menurutku ini jam paling tepat untuk memulai aktifitas, kenapa harus pagi banget sih, Indonesia? ngantuk tau. 

Potong rambut, disini mahal parah, 4000 yen, potong doang di tempat kayak tukang cukur di Indonesia, itu kalau di rupiahkan jadi sekitar 500 ribu rupiah, buset…. fuck my dream, i have to be tukang cukur. Dan itu tetep harga yang mahal bagi masyarakat sini. Makanya orang sini kebanyakan potong rambut sendiri and i do. bahkan sebelum datang ke Jepang, aku udah sering motong rambutku sendiri, syukurlah disini jadi berguna. 

Minum, Ini hal yang paling bikin shock, bagi orang sini minum adalah memasukkan cairan dalam mulut, jadi mereka lebih sering minum ocha daripada minum air putih, bahkan ada yang nggak minum air putih, dan mereka peminum berat, (alkohol, tapi kok nggak ada yang mati gara-gara ini ya? Padahal pesta minuman keras lumayan sering, jangan dibayangin pesta minuman keras itu yang image nya “jahiliyah” yaa, maksudnya tiap makan bareng, minumnya pasti alkohol ) ginjalnya nggak papa tuh? well, usia mereka yang panjang membuktikan kalau ini nggak papa. Tapi aku memang dari sananya suka minum air putih, aku masih jadi orang yang minum banyak air putih, dan minum lebih banyak ocha. hahaha. Oh satu lagi yang harusnya di Indonesia mesti ada adalah: minum harusnya gratis! disini pas makan nggak perlu beli minum, karena bakal dikasih air es/ocha gratis. 

Dari hal-hal yang disebutkan diatas, sebagian besar udah terbiasa, malah ada hal-hal yang kayaknya nggak bisa balik ke kebiasaan lama gara-gara udah ngikutin kebiasaan sini dan ternyata lebih cocok. Itu akan ditulis pada tulisan selanjutnya “Things that i might never want to go back”  kalau ada waktu, soalnya ada banyak.

Sekian dulu tulisan ini biar nggak terlalu panjang.
Mau penelitian tentang sepeda dulu. 

salam.

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s