The Winner’s Definition

“The winner in life is not the one with the most money when he dies,the winner is the person who sleeps best at night.”

Selamanya, kesuksesan akan menjadi subjektif, ini bukan tentang uang, meskipun uang adalah salah satu unsur. Tapi definisi kesuksesan bagi tiap orang akan selalu berbeda. Misalnya, bagimu kesuksesan adalah jadi PNS, bagiku jadi PNS adalah kegagalan karena aku mengikuti jalur yang sama dengan kedua orang tuaku, terprediksi. Bagimu kesuksesan adalah memiliki istri 3, bagiku itu sama saja masuk penjara 3 lapis. 

Selera. 

Subjektif. 

Contoh analogi lain:

Bagimu Nasi Goreng itu the best, penjualnya adalah orang yang mulia. Tapi aku bilang Mie Aceh itu tiada tanding dan penjualnya aku muliakan juga. Aku nggak memuliakan penjual Nasi Goreng, kamu pun sebaliknya. Oh, Kamu maksa aku biar suka Nasi Goreng? Gimana kalo aku suruh kamu ganti Nasi Goreng ke Mie Aceh? See? itu baru aku dan kamu. Di titik yang melibatkan massa lebih banyak, tentu akan makin beragam. Mungkin di antara banyak orang, ada beberapa orang yang memiliki kesamaan visi dengan kita, tapi tetap kita tidak akan bisa kita memaksa orang untuk masuk dalam indikator sukses dalam perspektif kita, atau bahkan sebagian besar dari kita. 

Ini bukan tentang uang. Sekali lagi. Ini tentang kebahagiaan. Tapi kalau definisi kebahagiaanmu adalah banyak uang, itu sama sekali nggak salah. Jangan merasa bersalah. Asal tidak melakukan hal yang salah. Terutama melalui sudut pandang hukum.

Subjektif adalah subjektif. 

Biarkan orang mencari jalannya sendiri, karena untuk sekedar menemukan jalan apa yang kita mau sudah merupakan hal yang sulit. Mengenali diri sendiri itu sulit. If you finally found it, go for it. Fight for it. Die for it. Biarkan orang lain bilang kamu irrasional, fuck them all, this is your life. Tapi jangan berbuat keburukan atas nama idealisme. Jangan hanya melakukan apa yang kamu inginkan, tapi lakukanlah apa yang benar juga. Dalam prinsip ekonomi pun, do what you are good at, so people will pay you for it.

Dan berhenti mengadili orang lain, lakukan saja tugasmu, misimu.

Misi? 

Yap, Aku percaya bahwa makna kita lahir di dunia adalah untuk menemukan diri kita, berjalan lewat cerita kita yang sudah tertulis, bahkan mungkin kita sendiri yang menulis. Menuntaskan misi itu. Setiap kejadian akan memberimu petunjuk untuk “membangunkanmu”. Untuk menemukanmu. Petunjuk itu bisa saja dititipkan melalui orang yang masuk ke hidupmu. Teman, keluarga, sekolah, negara, Atau sesimple kejadian acak yang kamu temui di pinggir jalan. Yang pasti setiap orang akan datang ke hidupmu, saling menginfluens satu sama lain dan setiap kejadian akan mengajarkanmu sesuatu yang akhirnya akan membentuk kamu. Seperti kata Dee “Hidup adalah petak umpet yang unik, kita mencari orang lain hanya untuk menemukan diri sendiri”. 

Semua ini untuk menemukan kamu, who’s trully you, “your truth”.


Jadi biarkan orang lain melakukan misinya masing masing, mengejar kesuksesan mereka yang seringkali kita anggap hal yang remeh itu. Yang tak bermasa depan itu. Yang tak berprospek itu. Yang tak pantas dijadikan menantu itu. Justru dengan perbedaan definisi sukses inilah yang membuat dunia ini berjalan. Bayangkan apabila definisi sukses semua orang di dunia adalah dengan jadi presiden, berapa juta orang yang merasa gagal? Dunia ini akan kehilangan gairah. Membosankan.

Dunia ini mati.

Seperti yang ditulis di awal tulisan ini, pemenangnya adalah orang yang tidur dengan tenang.
Apa yang mendasari tidur dengan tenang? Memiliki kehidupan yang bahagia. Dan kebahagiaan akan selalu subjektif. 

Nina Bobo,

 

vp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s