Jadi hari ini aku berbicara dengan Maeda san, mempelajari tentang cuti, yang pasti ini sangat penting bagi pekerja, siapa sih yang nggak mau libur..
aku nggak tau standar kerja di Indonesia karena aku belum belajar, tapi menurut standar kerja di Jepang, (untuk menambah pengetahuan aja) adalah sebagai berikut; 

cuti baru bisa didapat setelah 6 bulan bekerja, jadi selama satu tahun akan dapat jatah cuti 10 hari, dimulai dari bulan ke 7 sejak pertama kali bekerja. Tahun berikutnya akan dapat jatah cuti 11 hari, 12 hari, 14 hari, 16 hari, 20 hari. Mentok di 20 hari. (berarti cuti paling panjang bisa didapat setelah 6 tahun bekerja. Cuti yang tidak diambil bisa diakumulasikan di tahun berikutnya.
Untuk cuti melahirkan adalah 6 minggu sebelum melahirkan dan 6 minggu setelah melahirkan.
 

Panjangkah itu? Ini jumlah minimal ya, ada yang dapet lebih panjang dari itu tentunya.

Melahirkan. 

 

Entah, tapi setelah dipikir-pikir, setelah melahirkan akan susah untuk kembali bekerja karena harus membesarkan anak, kan? bagi wanita yang “carier oriented” sure this is kind of bummer. A huge bummer.
Memang belakangan ini banyak perempuan yang ingin jadi wanita karir, wajar. Nggak di Indonesia, nggak di Jepang, sama aja kok.
Karena semakin pintar seseorang biasanya akan semakin ambisius. Biasanya..
Dan kalau kamu menyuruh seseorang untuk berhenti mengejar impiannya hanya untuk jadi istrimu, apakah itu worthed? 

Bisa iya, bisa enggak. 

Bergantung pandanganmu tentang kebahagiaan. Hidup untuk bahagia,kan?

Tapi aku adalah tipikal orang yang sangat menghargai personal space.
Aku adalah pemimpi, maka aku menghargai orang yang memiliki mimpi dan berusaha mewujudkan impiannya.
Karena hidup hanya sekali, lakukanlah..

kejarlah.. sampai kamu merasa puas, sampai kamu tidak penasaran lagi.
Biarkan mengalir apa yang ada di hatimu itu. 

Pergilah. 

Aku bukan orang yang strict. Yang ingin punya istri yang tinggal di rumah, jadi ibu rumah tangga dan mengurus anak.
No, kerjalah kalau mau kerja, tinggal lah di rumah kalau mau tinggal. Bebas. Karena aku tau di rumah seharian seumur hidup mungkin akan membosankan. Maka aku nggak akan memaksa orang lain untuk berada di posisi itu. Semua orang nggak suka dipaksa, meskipun sebenarnya mau melakukan A, tapi kalau dipaksa melakukan A, bisa bisa jadi nggak mau melakukan A. Ini basic psikologi banget. 

“Tapi yan, anakmu gimana?”
“tapi yan, namanya istri harus nurut suami, itu sesuai dengan akidah”
“kok kamu membebaskan pasanganmu gitu sih, kan kamu pemimpinnya" 

I know, people, i know.. 

makanya pilih pasangan yang pintar, yang bisa menempatkan dirinya, konsekuen dan bertanggung jawab.
Memberinya kebebasan untuk melakukan keinginan dia tidak serta merta membuatmu tidak dihormati. Tidak serta merta membuatmu dilangkahi.
Karena gaya kepemimpinan dan cara mendapatkan kehormatan ataupun legitimasi ada berbagai macam. Main perintah bukanlah gayaku,
Aku ingin seseorang menaruh hormat bukan karena aku memintanya, bukan pula atas nama kodrat.
Aku ingin dihormati karena perilakuku layak dihormati.
Aku ingin jadi pemimpin yang mensejajarkan diri dan tumbuh bersama.
Aku akan tetap ada ketika dibutuhkan maupun tidak dibutuhkan. 

Begitulah peranku. 

Isn’t it good? isn’t it simple?

Apa masih salah juga? 

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s