Sedikit Tentang Gaya Hidup

Tulisan ini diawali oleh sebuah statement:

Hidup di Jepang itu mudah, tapi gaya hidup di sini keras.

 

Hidup di Jepang itu mudah karena disini semua sudah tertata dengan baik

kalau haus kita bisa menemui vending machine dimana-mana, nggak perlu macet macetan di jalan karena bisa naik kereta atau subway yang selalu ada tiap 3-5 menit, kalau ingin pergi jarak jauh bisa naik Shinkansen yang kenceng banget. Disini, jauh adalah soal angka dalam kilometer. Tapi semuanya bisa ditempuh dalam waktu yang singkat. Kotanya rapi, bersih, ekonomi berjalan dengan stabil, hal ini disebabkan salah satunya dari pemanfaatan ruang dan tata kota yang baik. 

Efeknya domino:

Karena mobilitas masyarakat yang tinggi atau ingin meninggikan tingkat mobilitas masyarakat, dibuatlah transportasi massa yang baik seperti bis, kereta, subway, kereta cepat. Subway berada di bawah tanah. Di bawah tanah menuju jalur subway banyak tempat-tempat makan, toko, bank, kantor bla bla bla. Di atas tanah juga ada hal serupa, di gedung gedung yang tinggi juga ada hal serupa. Di mana-mana. Ekonomi jalan. 

Mau nongkrong? banyak coffee shop yang unik unik, kalau nggak mau menghabiskan uang buat nongkrong di coffee shop, disini juga banyak taman, banyak bunganya, cuacanya pun enak buat tiduran atau piknik di rumput siang siang. Males beli galon buat minum? di sini air keran juga bisa diminum. Kamu anak internet? di sini internetnya salah satu yang paling kencang di dunia, WiFi juga tersebar dimana-mana. Pengen hiburan? ada wahana wisata kayak Universal Studio di Osaka, Disneyland Tokyo, atau yang skala lebih kecil kayak Nagashima Spa Land yang punya roller coaster terbuat dari kayu terbesar di dunia. (Ini deket banget dari Nagoya). Museum? banyak. salah satunya adalah Nagoya Sains Museum yang punya planetarium terbesar di dunia. Kamu fans Apple? disini banyak Apple Store dan negara ini adalah salah satu dari sedikit negara yang dapet produk baru Apple paling cepat, juga paling murah. Apa lagi? idol? udah jelas kalau Jepang surganya idol otaku, even SKE48 Theater cuma 15 menit naik kereta dari apartment. SKE48 loh! yang ada Jurina Matsui nya. hahaha.

Masih banyak lagi. 

You will get the best thing, easily. 

Tapi kehidupan di sini itu keras,
Kalau kamu dengar issue belakangan kalau orang Jepang nggak pengen nikah, itu bener. Mungkin uang bukan menjadi persoalan utama kenapa belakangan ini orang Jepang kehilangan minat untuk menikah, uang mereka banyak, cukup atau bahkan lebih dari cukup untuk menikah. Kehidupan dan situasi di sini lah yang nggak begitu mendukung untuk menikah, bahkan pacaran, bahkan kencan, bahkan kenalan sama stranger dan jadi teman. 

 Bagaimana tidak, (((bagaimana tidak))) 

mereka ini sibuk sekali, kerja dari jam 9 pagi sampe jam 8 malem, belum lagi habis kerja keluar bareng rekan kerja untuk minum-minum di Izakaya. Ada pula yang kerja dari Senin – Sabtu atau malah kerja seminggu libur di tengah pekan dan cuma sehari. Mau main sama siapa kalo di tengah pekan temen- temen atau pacarnya kerja?
Yang sekolah juga gitu, biasanya mereka ada kegiatan habis pulang sekolah kayak ikut kursus atau kelas lain di luar sekolah, maka nggak heran kalau malam masih banyak anak pake seragam sekolah. Bahkan di hari minggu pun banyak yang pakai seragam. Aku suka ngeliatin anak sekolah, seragamnya lucu

beberapa hari yang lalu di suatu cafe, jam 6 sore habis kerja, aku nggak sengaja duduk di sebelah cewek yang pake “Suit” hitam, kemeja putih, yang lagi isi brosur. Orang disebelahnya juga melakukan hal serupa, juga dengan pakaian yang senada. Kalau dipikir-pikir, banyak juga yang pakai pakaian nuansa begitu tapi auranya bukan pegawai kantoran. Karena aku penasaran, aku tanya aja, beginilah isi percakapannya: 

“hai, Itu test ya?" 

"Oh bukan, ini semacam CV untuk ngelamar kerja" 

"ahh sorry aku bukan orang jepang soalnya" 

"aah gitu, sorry, dari negara mana?" 

"Indonesia, kamu tahu?" 

"tau tau, tentu aku tahu" 

"syukurlah, jadi kalo disini, orang orang pake pakaian begitu, itu tandanya mereka adalah job seeker?" 

"iya, tapi nggak cuma itu, mahasiswa baru juga pakai ini di hari pertama, makanya banyak kan yang pake begini" 

"hee.. gitu yah, iya emang, belakangan ini aku sering lihat.. pantesan.. itu kamu ngelamar dimana?”

“ini di xx, semacam maskapai penerbangan gitu di Jepang" 

"wow.. mau jadi pramugari? keren banget, cocok kok" 

"hehehe ah biasa aja, aku kurang tinggi kayaknya" 

bla bla bla 

"emang kamu udah lulus?” tanyaku, (((tanyaku))) 

“belum, mungkin tahun depan aku baru lulus, tapi sekarang udah mulai apply kerja" 

"hee..”

bla bla bla 

“ini bentar lagi aku juga mesti ke Sakae buat les" 

"really? wow kerja keras banget ya! semangat!" 

"makasi.." 

terus aku pamit buat pergi.

See? bukan, aku nggak banggain skill ku bersosialisasi dengan orang asing. Kalau dianggap begitu juga nggak papa.

poinnya adalah mereka ikut kelas di luar kuliah, demi masa depan mereka, seniat itu dan nggak hanya itu, mayoritas dari anak kuliah juga ikut ekskul dan juga punya part time job. Jangan lupa kalau ujian masuk perguruan tinggi Jepang itu susah banget dan mayoritas anak SMA udah ikut les dari jauh hari hanya untuk mempersiapkan diri menghadapi tes ujian masuk. 

sibuk banget kan? niat banget kan? terus waktu buat pacaran kapan? atau bahkan (paling nggak) waktu buat ketemu lawan jenis kapan?

mereka terlalu sibuk.
Aku tanya ke temenku seberapa sering kencan atau ketemu sama pacar, dan jawabannya paling 2 minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Astaga. 

Di Indonesia, sepasang kekasih (((sepasang kekasih))) bahkan bisa kencan tiap hari.
Ya, emang ini "Person’s thing” bukan berarti semua orang punya ritme yang sama. Tapi begitulah gambaran umumnya.

Nggak jarang dimana-mana bisa ditemui orang yang jalan sendiri atau duduk sendiri di cafe, mereka emang suka kayak gitu dan merasa baik-baik aja. Which is good for me karena aku juga tipe orang yang kemana-mana lebih suka sendirian, tapi dianggap menyedihkan menurut sudut pandang orang Indonesia.

“orang Jepang suka mall yah..” tanyaku pada teman yang lain. 

“iya, aku juga suka banget sama mall" 

"gitu itu sama siapa kamu ngemall?" 

"ya sendirian aja, windows shopping, aku udah suka banget" 

"hahaha, windows shopping, Jadi kamu suka jalan jalan sendirian kayak begini?" 

"iya, aku suka sendirian soalnya nggak ribet dan aku bisa mampir mampir kemanapun yang aku pengen" 

"wow, aku juga suka kayak begini, tapi orang Indonesia benci sendirian di tempat umum." 

"heee.. kenapa?" 

"entah~”

Gaya hidup yang sibuk, sifat yang pemalu dan suka menyendiri inilah yang mungkin menjadi sumber kenapa beberapa tahun belakangan angka kelahiran menurun drastis. Mereka nggak tertarik dengan pernikahan atau bahkan berhubungan seks. sorry JAV Fans

Sebuah bencana demografis bagi negeri yang legendaris.

Jadi ingat kata kata mutiara ini: 

“Obladi, oblada, life goes on… brah, la la la la life goes on." 

Dalem. 

VP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s